Tiga Amalan Wasiat Rasulullah S.A.W


Amalan yang dikerjakan seorang insan beriman hendaknya benar-benar dilandasi dengan ilmu (yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah) serta keikhlasan mengharap ridhoNya semata, karena tanpa dua hal ini amal kita akan sia-sia, tidak bernilai dan tidak diterima di sisi Allah wa Ta’ala. Ilmu dan amal bagai dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan, seorang yang beramal tanpa ilmu maka dia sesat (Dholliiin) dan seseorang yang berilmu tapi tidak diamalkan maka ia dimurkai oleh Allah Ta’ala (Maghdhuubi ‘Alaihim).

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan kepada umatnya berbagai macam amal shaleh yang mengandung keutamaan, kemuliaan, dan pahala serta derajat yang tinggi disisiNya dibanding amalan lainnya. Di antara amalan mulia tersebut adalah apa yang Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan dalam haditsnya.
Dari Ibnu Mas’ud Ra. berkata, saya bertanya kepada Rasulullah SAW: Amalan apa sajakah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala?, Rasulullah SAW menjawab:” Shalat tepat pada waktunya”, aku berkata, kemudian apa ya Rasulullah SAW?, beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua (Birrul Walidain)”, aku berkata, kemudian apa ya Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Jihad di jalan Allah (Al Jihaadu Fii Sabiilillah). (HR. Bukhari Muslim)
Tiga Amalan utama yang menjadi wasiat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits tersebut adalah
Pertama : Shalat tepat pada waktunya
Shalat memiliki kedudukan yang agung dalam agama Islam. Di antara keutamaannya bahwa ia merupakan tiang agama seseorang, rukun Islam yang kedua, amalan yang akan pertama kali dihisab di hari kiamat kelak, pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, wasiat terakhir Rasulullah SAW menjelang wafatnya beliau, pembeda bagi mukmin dari orang-orang munafiq, kafir dan musyrik, serta satu-satunya amalan wajib yang Allah perintahkan langsung kepada NabiNyaShallallaahu ‘Alaihi Wasallam tanpa perantara malaikat Jibril (ketika Peristiwa Isra dan Mi’raj).
Karena pentingnya kedudukan shalat dalam Islam, maka Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk mulai mengajarkan shalat kepada anak cucunya sejak dini, menyuruhnya shalat ketika berumur tujuh tahun dan memukulnya ketika tidak mengerjakan shalat padahal telah berumur sepuluh tahun.Khalilullah, kekasih Allah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap shalat, sehingga ketika ia meninggalkan istrinya Siti Hajar dan putranya tercinta Ismail As. atas perintah Allah Ta’ala, maka doa yang dipanjatkan oleh Ibrahim adalah agar mereka diberikan rezeki berupa buah-buahan dan agar mendirikan shalat. Allah ta’ala berfirman:
Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahiim: 37)
Tidak hanya itu, Ibrahim As. juga berdoa agar dirinya dan anak cucunya menjadi orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat, sebagaimana Firman Allah Ta’ala,
“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.”(Q.S. Ibrahiim: 40)
Shalat lima waktu yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim telah Allah tentukan waktunya, sebagaimana firmanNya:

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa: 103)
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam (dhuhur, ashar, maghrib dan Isya) dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra: 78)
Shalat lima waktu akan sempurna manakala dikerjakan dengan berjama’ah dan tepat pada waktunya. Shalat ia kerjakan di awal waktu, ia tidak menunda-nunda shalat, ia senantiasa merindukan datangnya waktu shalat dan mengerjakannya dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan.Shalat lima waktu baginya bukanlah kewajiban belaka, namun merupakan kebutuhan utama dalam kehidupannya. Segala hal yang berkaitan dengan dunia ia tinggalkan manakala panggilan adzan berkumandang. Karena orang-orang yang senantiasa menjaga shalat termasuk ke dalam golongan mukmin beruntung yang Allah Ta’ala akan masukkan ke dalam surga Firdaus sebagaimana firmanNya:
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mu’minun: 9 -11)

Kedua: Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain)
Birrul Walidain merupakan amalan kedua yang Rasulullah SAW wasiatkan kepada umatnya setelah shalat lima waktu tepat pada waktunya. Inilah amalan mulia yang Allah Ta’ala sandingkan langsung dengan tauhid kepadaNya, sebagaimana tercantum dalam firmanNya,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, ..(Q.S. An Nisa: 36)
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua (ibu bapak),….” (Q.S. Al An’am: 151)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya……”. (Q.S. Al Isra: 23)
Itulah keutamaan berbakti kepada kedua orang tua yang Allah Ta’ala jelaskan langsung dalam Al Qur’an. Kedudukannya yang Allah Ta’ala tetapkan setelah Tauhid (mengesakan Allah), menunjukkan betapa agungnya amalan ini. Maka seorang mukmin yang tidak berbakti kepada orang tuanya (birrul walidain) berarti ia telah melakukan sebuah berdosa besar. Dan dosa dari pada durhaka kepada kedua orang tua itu menempati urutan kedua, tepatnya setelah dosa besar yaitu syirik (menyekutukan Allah) sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang disampaikan di depan para sahabatnya,
Maukah aku beritahukan kepada kalian sebesar-besarnya dosa besar, kami menjawab: iya wahai Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda: “Menyekutukan Allah (Syirik) dan durhaka kepada orang tua…………………” (HR. Bukhari Muslim)
Inilah janji dan ancaman dari Allah Ta’ala kepada hambaNya tentang berbakti kepada kedua orangtua. Surga yang penuh kenikmatan bagi mereka yang senantiasa berbakti kepada orang tuanya dan neraka yang penuh dengan kepedihan bagi mereka yang durhaka. Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua, demikianlah Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita dalam sabdanya.
Ketiga: Jihad di Jalan Allah
Dan adapun wasiat Rasululllah SAW yang ketiga adalah tentang jihad fii sabiilillah. Inilah amalan yang merupakan puncak kejayaan Islam, puncak amalan tertinggi dalam menegakkan kalimatullah (Tauhiid) di muka bumi. Dengan Jihad yang Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnyaRadhiallaahu ‘Anhumlaksanakan, maka Islam menjadi mulia dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Allah Ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu kutunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(Q.S. As Shaff: 10-11)
Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menjadikan jihad sebagai sebuah amalan mulia yang menyelamatkan pelakunya dari azab yang pedih, sebuah perniagaan tiada rugi, perniagaan antara hamba dan Tuhannya yang dijanjikan surga, sebagaimana firmanNya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.”(Q.S. At Taubah: 111)
Dua Ayat Al Qur’an di atas menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dari jihad di jalan Allah. Islam akan mulia manakala umatnya berpegang teguh terhadap ajaran agama dan berjihad di jalanNya, jika jihad telah ditinggalkan maka yang ada pada umat ini hanyalah kehinaan dan keterpurukan. RasulullahShallallaahu ‘Alaihi Wasallambersabda dalam haditsnya,
Jika engkau sekalian berjual beli dengan riba, dan menyukai cocok tanam dan berternak, serta meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan kepada kalian dan tidak akan hilang kehinaan itu sampai kalian kembali kepda agama kalian” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Baihaqi)
Laa ‘Izzata Illa bil Jihad, No Prestige Without Jihad, Tiada kemuliaan kecuali dengan Jihad adalah ungkapan yang sangat tepat bagi kemuliaan Islam. Tentunya adalah jihad yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan RasulullahShallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Harus ada dalam benak kita keinginan untuk bisa berjihad di jalanNya, baik itu dengan diri, harta, maupun kedua-duanya. Jangan sampai tidak ada sedikitpun keinginan untuk berjihad di jalanNya, karena hal itu bisa menjadikan kita meninggal dalam salah satu sumbu kemunafikan, Naudzubillah min Dzalik.
Itulah tiga amalan mulia wasiat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam kepada umatnya, umat yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat, umat yang menginginkan ridhoNya berupa surga, dan umat yang menginginkan dijauhkannya api neraka dari dirinya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan umatnya yang senantiasa berusaha istiqamah dalam melaksanakan tiga wasiat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tersebut.
Wallahu A’lam bis Shawwab.
Iklan

Kematian adalah kepastian. Persiapkan bekal akhiratmu


Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, baik itu manusia, jin, hewan, ataupun tumbuh-tumbuhan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”(Q.S. Al Ankabuut: 57)

Dan kita sebagai seorang mukmin pasti menginginkan sebuah akhir hidup yang baik (khusnul khatimah). Yaitu keadaan dimana ketika malaikatul maut datang untuk mencabut nyawa kita, kita sedang beribadah kepadaNya. Salah satu ciri kesuksesan seorang mukmin di dunia adalah ketika di akhir hayatnya ia mampu mengucapkan kalimat tauhid,Laa ilaaha Illallah. Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang akhir ucapanya adalah Laa Ilaaha Ilallah maka dia masuk surga”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Hakim dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahiih Jami’us Shaghir no 6479)

Dalam hadits yang shahih dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada pamannya, Abu thalib taktala hendak meninggal dunia, Rasulullah SAW berkata, “Hai Pamanku katakanlah kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ kalimat yang nantinya bisa aku jadikan sebagai hujjah untuk membelamu kelak di hadapan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kematian akan datang taktala umur yang Allah Ta’ala berikan kepada hambaNya telah berakhir, telah mencapai batas. Maut akandatang secara tiba-tiba, tanpa diundang, datang pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun seorang itu berada. Allah Ta’ala berfirman,

dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Q.S. Qaaf: 19)
Kematian akan selalu mengintai setiap orang tanpa pandang bulu, baik sehat maupun sakit, konglomerat maupunkonglomelarat, luang ataupun sibuk, pejabat ataupun rakyat, direktur maupun tukang bubur, ketika ajalnya datang maka tak ada yang bisa menghindar sedetikpun darinya. Kematian tak dapat dipercepat ataupun diperlambat, walaupun seseorang lari darinya ketahuilah kematian akan selalu menyertainya, Allah SWT berfirman:

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah Azza wa Jalla), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. Al Jumu’ah: 8)

Bahkan kematian akan mendatangi seseorang walaupun ia berada atau bersembunyi di benteng yang kokoh, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

(QS. An Nisa’ :78)

Oleh karena dahsyatnya kematian ini maka tentunya seorang muslim yang cerdas, kita harus mempersiapkan sebaik-baik bekal yaitu taqwa, dengan menjalankan segala perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya, selagi masih ada ruh dalam diri kita. Kehidupan dunia kita jadikan sebagai ladang untuk menanam amal kebaikan, lahan untuk menebar benih kebaikan dan tempat berbekal dengan ketakwaan yang hasilnya kelak akan kita petik di akhirat. Sehingga dunia tidak melalaikan kita, kesibukan dunia menjadikan ibadah terbengkalai, cinta dunia menjadikan diri lupa akan mati.
Sebenarnya ketika seorang muslim mau mengingat akandahsyatnya kematian dan kehidupan setelahnya niscaya itu akan menjadikannya lebih giat untuk beribadah kepadaNya dan takut untuk bermaksiat kepadaNya. Karenasesunguhnya orang-orang shaleh yang merindukan dan dirindukan Surga selalu bersiap-siap menghadapi kematian. Seorang pemimpin mulia setelah Rasulullah SAW, sahabat yang Allah janjikan padanya Surga, Abu Bakar As Sidiq Ra. pernah berkata: “carilah kematian, niscaya engkau akan temukan kehidupan.”

Sesungguhnya kehidupan yang abadi akan ada setelah datangnyakematian. Kehidupan abadi dan kekal hanya dengan dua pilihan, surga yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan bagi orang yang taat menjalankan perintah-perintahNya dan neraka yang penuh azab dan siksaan bagi orang yang gemar bermaksiat kepadaNya. Maka ketika kita menginginkan SurgaNya persiapkanlah kematian dengan sebaik-baiknya. Karena ketika kita mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah maka kebahagiaan akan menanti di perjalanan kita selanjutnya, baik di kubur (barzakh), padang mahsyar, miizan, maupunshirath hingga akhirnya Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam SurgaNya. Dan sebaliknya ketika kehidupan dunia hanya kita gunakan untuk bersenang-senang, menumpuk harta kekayaan, menyombongkan diri, dan bermaksiat kepadaNya hingga ajal menjemputnya maka kesengsaraan ketika datangnya kematian, kubur yang penuh dengan siksaan, padangmahsyar tanpa naungan, timbangan keburukan yang lebih berat dari kebaikan, dan gagalnya menjembatani shirath hingga dilemparkannya diri ke dalam api neraka yang penuh kepedihan dan kesengsaraan. Naudzubillah min dzalik

أكثروا ذكر نعم هذه اللذات

“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan (kematian).”

Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk memperbanyak mengingat kematian, karena pengaruhnya yang besar bagi kehidupan mukmin. Seseorang yang senang untuk dzikrul maut (mengingat kematian) ia akan senantiasa berusaha memperbanyak dan meningkatkan kualitas ketakwaan serta amal ibadahnya, karena ia tahu hanya amal shalehlah yang akan menjadi pendamping setianya taktala pergi dari kehidupan dunia. Teman setia taktala semua yang ia miliki meninggalkanya, istri yang ia cintai tak menemani, anak yang ia sayangi tak mendampingi, keluarganya pun pergi, harta dan jabatan yang ia miliki tak berarti.
Dari Anas Ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Yang mengikuti mayat itu ada tiga yaitu keluarga, harta benda dan amal perbutannya, yang dua akan kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali dan amal perbuatanya akan tetap bersamanya”. (HR. Bukhari Muslim)

Bila waktu t’lah berakhir teman sejati hanyalah amal, Bila waktu t’lah berakhir teman sejati tinggallah sepi” begitulah ungkapan dalam sebuah nasyid.
Abu Bakar Ash Shidiq Ra. berkata: “Barangsiapa masuk ke kubur tanpa membawa bekal, maka ia tak ubahnya menyebrangi lautan tanpa perahu.”
Beramalah dengan sebaik-baiknya, lakukan segala amal kebaikan, jauhi segala keburukan, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena bisa jadi hal inilah yang akan menolong kita di hari perhitungan kelak. Mengapa???, karena hal-hal kecil ini tidak mudah dihinggapi riya’ dan banyak dianggap remeh oleh kebanyakan manusia. Bukankah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk tidak menganggap remeh kebaikan sekecil apapun walau bertemu dengan teman dengan wajah tersenyum, dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan akan berat dalam timbangan (subhanallah wa bihamdihi subhanallahil ‘adhim).

Rasulullah bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menahan hawa nafsunya dan mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati dan orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Jadilah orang cerdas sebagaimanasabda Rasulullah SAW dalam hadits diatas. Kecerdasan yang akan membawa diri kepada hakikatkesuksesan, dimasukkan kedalam surga dan dijauhkan dari siksa api neraka. Maka persiapkanlah bekal dengan sebaik-baiknya, sebelum kematian datang pertanda waktu berbekal telah tiada. ‘Isy Kariiman Au Mut Syahiidan “Hidup Mulia Atau Mati Syahid.”

Bayangkan Ketika Ajal Menjemput


Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.
Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.
Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su’ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na’udzubillaahi min dzaalik

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah-tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, “Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk”. Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, “Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman” Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.
Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu? Hanya Diri Kita Sendiri Yang Menjawabnya.Semoga Bermanfaat,,Aamiin.

Bila Usiamu Telah Sampai 40 Tahun


Berkenaan dengan usia 40 tahun, Allah SWT berfirman:

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“…Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’ (QS. Al-Ahqaf:15)

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya.

Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur.

Bila usia 40 tahun, maka meningkatlah minat seseorang terhadap agama, meski semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.

Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karier dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak-istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas “…dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…”

Bila usia 40 tahun, maka akan sulit diubah kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, seperti meninggalkan shalat, berzina, dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut.

Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna.

Abdullah bin Abbas ra berkata: “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab: “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata: “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin IV/410)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasinya untuk meningkatkan ibadah dan ilmu).” (At-Tadzkirah hal 149)

Muhammad bin Ali bin al-Husain rahimahullah berkata: “Apabila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka berserulah penyeru dari langit: ‘Waktu berpulang semakin dekat, maka siapkanlah perbekalan.’

An-Nakha’i rahimahullah berkata: “Sebelumnya mereka menggapai dunia, di saat menginjak usia 40 tahun mereka menggapai akhirat” (At-Tadzkarah al-Hamduniyah VI/11.

Ada empat hal yang diminta dilindungi Allah SWT ketika usia mencapai 40 tahun :

1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah.

3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan.

4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:28-30)

Maghrifatullah Menurut Alquran dan Sunnah


Ma’rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?. Segelas susu yang dibikin seseorang tidakakan pernah mengetahui seperti apakah orang yang telah membuatnya menjadi segelas susu.Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yangdimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma’riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.CIRI-CIRI DALAM MA’RIFATULLAHSeseorang dianggap ma’rifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali1. asma’ (nama) Allah2. sifat Allah dan3. af’al (perbuatan) Allah, yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.Kemudian dengan bekal pengetahuan itu, ia menunjukkan :1. sikap shidq (benar) dalam ber -mu’amalah (bekerja) dengan Allah,2. ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,3. pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah SWT4. sabar/menerima pemberlakuan hukum/aturan Allah atas dirinya5. berda’wah/ mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya6. membersihkan da’wahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.Figur teladan dalam ma’rifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang paling utama dalam mengenali Allah SWT.Sabda Nabi : “Sayalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya”. HR Al Bukahriy dan Muslim. Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.Tingkatan berikutnya, setelah Nabi adalah ulama amilun ( ulama yang mengamalkan ilmunya). Firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” QS. 35:28Orang yang mengenali Allah dengan benaradalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cintadunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”URGENSI MA’RIFATULLAHa. Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhlukhidup lain (binatang ternak). QS.47:12b. Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpamusibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur” (HR.Muslim)Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.c. Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat denganAllah.d. Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.e. Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akherat.SARANA MA’RIFATULLAHSarana yang mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah adalah :a. Akal sehatAkal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah : Katakanlah “ Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. QS 10:101, atau QS 3: 190-191Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu’aimb. Para RasulPara Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang ma’rifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakuisebagai orang yang paling mengenali Allah. Firman Allah :“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..” QS. 57:25c. Asma dan Sifat AllahMengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allahakan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Firman Allah :“Katakanlah : Serulah Allah atau serulah ArRahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma’ al husna (nama-nama yang terbaik) QS. 17:110Asma’ al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya dalam berdoa. Firman Allah :“ Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu…” QS. 7:180Inilah sarana efektif yang Allah ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali Allah SWT (ma’rifatullah). Dan ma’rifatullah ini tidak akan realistis sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu : tauhid rububiyyah, tauhid asma dan sifat. Kedua tauhid ini sering disebut dengan tauhid al ma’rifah wa al itsbat ( mengenal dan menetapkan) kemudian tauhid yang ketigayaitu tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.Wallahu a’lam

Hukum Shalat Berjamaah di Masjid


Ketahuilah bahwa shalat limawaktu harus kita kerjakan dengan berjama’ah. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk shalat berjama’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلَاةُ الرَّجُلِ فِـي الْـجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَىٰ صَلَاتِهِ فِـيْ بَيْتِهِ ،وَفِـيْ سُوْقِهِ ، خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّىٰ  لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّـيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ فِـيْ مُصَلَّاهُ: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah akan dilipat-gandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripadashalat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya,kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya untuk keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan shalat. Tidaklah ia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila ia shalat dengan berjama’ah, maka Malaikat akan senantiasa bershalawat (berdoa) atasnya, selama ia tetap di tempat shalatnya (dan belum batal). Malaikat akan bershalawat untuknya, ‘Ya Allâh! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allâh, berikanlah rahmat kepadanya.’ Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan shalat (mendapatkan pahala shalat) selama ia menunggu datangnya waktu shalat.’”[1]Dalam hadits lain, dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَاغَدَا أَوْ رَاحَ.Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik diwaktu pagi atau sore hari, maka Allâh menyediakan baginya hidangan di Surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.[3]Dari Anas Radhiyallahu anhu ,ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْجَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَىكُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.Barangsiapa shalat jama’ah dengan ikhlas karena Allâh selama empat puluh hari dengan mendapatitakbir pertama (takbiiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.[4]Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, rumah itulebih baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ber-jama’ah di masjid, bahkanketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda:لَا تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.Janganlah kalian melarang istri-istri kalian mendatangi masjid. Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.[5]

HUKUM SHALAT BERJAMAAH BAGI LAKI-LAKI

Hukum shalat berjama’ah bagi laki-laki adalah wajib, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” [Al-Baqarah/2: 43]Para Ulama berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya shalat berjama’ah.[6]Juga berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahuanhu, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ سَمِعَ الِنّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَاصَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ. Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya (shalatnya tidak sempurna-pent), kecuali karena adaudzur.[7]Di antara udzur yang membolehkan kita untuk meninggalkan shalat berjama’ah adalah sakit, bepergian (safar), hujan lebat,cuaca sangat dingin, dan udzurlainnya yang dijelaskan oleh syari’at.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat berjama’ah bagi orang yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid. Diriwayatkan dari AbuHurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sungguh, aku tidak memiliki orang yang mau mengantarkanku menuju masjid.’ Maka ia meminta keringanan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat di rumahnya, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan baginya. Namun, ketika ia telah beranjak, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata:هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَأَجِبْ.Apakah engkau mendengarsuara panggilan untuk shalat (adzan)?’ Ia menjawab, ‘Ya.’Maka Beliau bersabda, ‘Kalaubegitu penuhilah panggilan itu.’”[8] Pada kesempatan lainnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berniat untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak melakukan shalat berjama’ahdi masjid.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَـمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ لِيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَـهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَـالِفَ إِلَـىٰ رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَـهُمْ. وَالَّذِيْ نَـفْسِـيْ بِيَدِهِ ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَـجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَـاتَيْـنِ حَسَنَـتَيـْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.Sesungguhnya aku berniat menyuruh mengumpulkan kayu bakar, lalu aku menyuruh adzan untukshalat. Kemudian kusuruh seorang laki-laki mengimami orang-orang. Setelah itu, kudatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah dan kubakar rumah-rumah mereka. Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan memperoleh daging gemuk atau (dua kaki hewan berkuku belah) yang baik, niscaya ia akan mendatangi shalat ‘Isya’.”[9] Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya.Sangat disayangkan sebagian kaum Muslimin, padahal ia sebagai donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan para ustadznya, tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah berkata:مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِحَيْثُ يُنَادَىٰ بِهِنَّ ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى ، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَىٰ ، وَلَوْ أَنَّكُمْصَلَّيْتُمْ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّـيْ هٰذَا الْمُتَخَلِّفُ فِـيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّـةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ … وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ.Barangsiapa ingin bertemu dengan Allâh di hari kiamat kelak dalam keadaan Muslim,hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dimanapun ia diseru kepadanya. Sungguh, Allâh telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian n , sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Shalat lima waktu termasuk sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang tertinggal ini shalat di rumahnya (dia tidak shalat berjama’ah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah-sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat…Dansaya melihat (pada zaman) kami (para Shahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik, yang telah diketahuikemunafikannya.[10] Di zaman Sahabat, orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para Sahabat. Para Sahabat dan Tabi’in marah kepada laki-laki yang sehat, yang jelas tidak ada udzur syar’i untuk meninggalkan shalat berjama’ah.Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yaitu:وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ.Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telahdiketahuikemunafikannya.[11]Pada zaman para Sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan shalat berjama’ah. Kalau datang waktu Shubuh dan ‘Isya’, mereka enggan untuk hadir shalat berjama’ah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan shalat yang dilakukandi siang hari, mereka ikut berjama’ah karenariya’(pamer). Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah shalat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan wanita mengerjakan shalat di rumah.Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .Mengerjakan shalat berjama’ah tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit, tidak lebih lama dari waktu berdagang, kerja, kuliah, dan makan.Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat melaksanakan shalat yang lima waktu secara berjama’ah di masjid. Hanya kepada Allâh Azza wa Jallaitamemohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita bertawakkal.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2017M.

Perintahkanlah Keluargamu Untuk Mendirikan Sholat


Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawasحفظه اللهDari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِSuruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuhtahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!TAKHRIJ HADITSHadits inihasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197; Dan al-Baghawi dalamSyarhus Sunnah, II/406, no. 505 dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam an-Nawawi t dalamal-Majmû’danRiyâdhush Shâlihîn. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya hasan shahih.” LihatShahîh Sunan Abi Dawud, II/401-402, no. 509.Hadits ini hasan, karena dalam sanadnya ada Sawwar bin Dawud Abu Hamzah al-Muzani as-Shairafi. Dia dikatakantsiqaholeh Ibnu Ma’in. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa.” Imam ad-Daraquthni berkata, “Tidak bisa dijadikanmutâba’ah, tapi haditsnya bisa dipakai. [LihatMîzânul I’tidâlII/345, no. 3611].Adapun ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, maka sanadnya hasan dan dipakai olehpara Ulama, seperti Imam Ahmad, Imam Ibnul Madini, Imam Ishaq bin Rahawaih, dan Imam al-Bukhâri.Hadits ini ada syahid dari Sabrah bin Ma’bad al-Juhani Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[1]SYARAH HADITSAllâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَWahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allâh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm/66:6]‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan, “Yaitu ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.”[2]‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Hendaklah kalian senantiasa melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan takutlah kalian dalam berbuat maksiat kepadaAllâh, serta perintahkanlah keluargamu agar berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla niscaya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkan kalian dari api neraka.”Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allâh dan hendaklah kalian mewasiatkan kepada keluarga kalian untuk selalu bertakwa kepada Allâh.”Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh dan melarang mereka berbuat maksiat kepada Allâh! Hendaklah kalian menegakkan perintah kepada mereka agar mereka selalu melaksanakanperintah Allâh. Suruhlah mereka melakukan kebaikan dan bersegera dalam melakukan kebaikan. Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiat kepada Allâh, maka hendaklah kalian larang dan cegah.”Adh-Dhahhak dan Muqatil mengatakan, “Wajib atas seorang Muslim untuk mengajarkan keluarganya, kerabat, dan para budaknya, baik laki-laki maupun perempuan, semua yang Allâh wajibkan atas mereka dan semua yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla .”[3]Ayat dalam surat at-Tahrîm ini bentuknya umum, yakni wajib bagi setiap kepala keluarga menjaga anggota keluarganya dari api neraka. Yaitu menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjauhkan semua perbuatan dosa dan maksiat. Wajib mengajak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , juga mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengajarkan mereka agar berbakti kepada kedua orang tua, mengerjakan shalat, berbuat kebaikan kepada keluarga, tetangga, sanak kerabat, dan lainnya. Begitu juga wajib melarang mereka dari berbuat syirik, melarang dari beribadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla , melarang dari perbuatan keji dan munkar. Serta melarang mereka dari perbuatan dosa dan maksiat.Orang tua wajib melarang dan mencegah mereka dari perbuatan maksiat, tidak boleh diam.Perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , kemudian shalat wajib yang lima waktu sehari semalam. Seorang bapak, wajib memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk shalat lima waktu, memperhatikan dan mengawasi mereka. Jangan sampai mereka tidak melaksanakan shalat. Karena meninggalkan shalat merupakan dosa besar yang paling besar setelah syirik.Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullah berkata, “Wajib bagi para bapak dan ibu untuk mendidik dan mengajarkan adab kepada anak-anak mereka, dan wajib mengajarkan cara bersuci (berwudhu, mandi, dan lainnya) dan (tata cara) shalat. Boleh orang tua memukul anak-anak mereka bila sudah paham (tentang wajibnya shalat). Anak laki-laki yang sudah bermimpi basah(baligh) dan anak perempuan yang sudah haidh atau genap berusia lima belas tahun, maka mereka sudah wajib mengerjakannya.”[4]Perintahkanlah istri, anak-anak, dan anggota keluarga yang ada di rumah kita untuk mengerjakan shalat wajib yang lima waktu sehari semalam dan bersabarlah dalam menyuruh mereka melakukannya.Allâh Azza wa Jalla berfirman:يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِWahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” [Luqmân/31:17]Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖلَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖنَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰDan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Thâhâ/20:132]Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mengerjakan shalat. Pertama kali, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk shalat, kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh keluarga kita untuk shalat. Ini memerlukan waktu dan kesabaran. Tidak boleh kita lalai dalam mengajak keluarga kita untuk shalat karena hal ini merupakan tanggung jawab. Dalam contoh realitanya, seorang anak yang pulang sekolah, pulang kuliah, maupun pulang dari bermain, tanyakanlah kepadanya tentang masalah shalat terlebih dahulu sebelum masalah yang lain. Begitu juga kepada sang istri, tanyakanlah tentang shalat ketika sudah tiba waktunya kemudian perintahkanlah untuk mendirikan shalat sehingga kewajiban untuk mengajak dan mengerjakan shalat telah kita tegakkan di lingkungan keluarga.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْأَمِيْرُ رَاعٍ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَىٰ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalianbertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dankamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas orang yang dipimpinnya.[5]Perhatikanlah wahai saudaraku! Apakah keluarga kita telah melakukan shalat pada waktunya setiap hari? Terlebih lagi bimbingan kepada anak kita tentang masalah shalat. Setiap orang tua wajib mengajarkan anaknya yang telah menginjak usia tujuh tahun untuk mengerjakan shalat, bahkan sejak usia dini. Apabila anak itu sudah mencapai sepuluh tahun ke atas, maka ajakan berupa perintah untuk mengerjakan shalat harus lebih tegas lagi. Seorang Muslim harus terus tetap mengajak keluarganya untuk mengerjakan shalat dan tidak boleh berdiam diri tanpa mengajak mereka untuk shalat.Ingatkanlah selalu keluarga kita tentang kewajiban mendirikan shalat karena shalat adalahperkara yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat dan shalat merupakan pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir kepada ummatnya. Seandainya kita tidak menyuruh keluarga kita untuk mendirikan shalat, maka ingat akibatnya akan berbahaya bagi kita, sebagai kepala keluarga, kita akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadits di atas, yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya.”Maksudnya, setiap kepala rumah tangga akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat tentang keluarga yang dipimpinnya; Apakah dia menyuruh keluarganya untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan melarang mereka dari perbuatan maksiat atau tidak? Apakah mereka menyuruh keluarganya melaksanakan shalat atau tidak?Semua manusia akan dihisab pada hari kiamat, dan yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِPerkara yang pertama kali dihisab dari seoranghamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabilashalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnyapun buruk.[6]Dalam hadits yang lain, dari Sahabat Abu HurairahRadhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ،فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْـجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ ؛ قَالَ الرَّبُّ : اُنْظُرُوْا ! هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَمِنَ الْفَرِيْضَةِ ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَىٰ ذٰلِكَSungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamat-lah dia. Namun jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci lagi Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya.’”[7]Wahai saudaraku…Sekaranglah waktunya untuk kita mengingatkan keluarga kita agar mendirikan kewajiban shalat. Karena waktu begitu pendek, entah kapan nyawa akan dicabut. Ini juga agar generasi sepeninggal kita tetap dalam ketaatan mengerjakan kewajiban mendirikan shalat. Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan tentang generasi mendatang sepeninggal orang-orang yang taat dalam firman-Nya:فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖفَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّاMaka datanglah sesudah mereka pengganti (yangjelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. [Maryam/19:59]Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa sepeninggal mereka (orang-orang yang taat), akan ada generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu serta akan menemui kesesatan.Bentuk menyia-nyiakan shalat itu banyak, diantaranya melalaikan kewajiban shalat atau melalaikan waktu shalat dengan tidak melaksanakan di awal waktu. Yang dengan itu, mereka akan menemui kesesatan, kerugian dan keburukan.[8]Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memerintahkan ummatnya agar mengingatkan putra-putri mereka untuk mengerjakan shalat ketika telah berumur tujuh tahun, dan apabila sudah berumur sepuluh tahun belum mau shalat, maka harus dipukul supaya dia mau shalat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[9]Makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemukulan adalah pukulan fisik bukan pukulan hati dan tidak mengandung konotasi yang lain. Namun, pukulan itu bukan pukulan yang melukai atau mencederai. Pukulan itu adalah pukulan yang mendidik.Ini adalah ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan pendidikan Islam.Kepada setiap kepala rumah tangga, hendaklah ia menyuruh isteri, anak, pembantu dan sopirnya untuk mengerjakan shalat.Setiap kepala rumah tangga, ayah dan ibu, wajib menyuruh anak-anaknya untuk shalat. Wajib memperhatikan orang yang di bawah tanggungannya, agar mereka melaksanakan shalat wajib yang lima waktu.Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِقَانِتِينَPeliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allâh dengan khusyuk.”[Al-Baqarah/2:238]Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan setiap kepala rumah tangga agar anak laki-laki dan perempuan dipisah kamarnya, dipisah tempat tidurnya. Tujuannya agar mereka terbiasa dipisah dalam tidur antara anak laki-laki dan perempuan. Pemisahan ini juga sebagai pencegahan dari hal-hal yang membawa kepada perbuatan keji.

FAWA’ID

*.Setiap kepala rumah tangga bertanggung jawab atas orang-orang yang ada dalam rumah tangganya.

*.Setiap orang tua wajib menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

*.Setiap orang tua wajib mendidik istri dan anak-anaknya di atas agama Islam yang benar.

*.Pertama kali yang wajib diajarkan kepada istridan anak-anak adalah tentang tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh saja.

*.Wajib bagi orang tua mengajarkan keluarga dan anak-anaknya tentang wudhu dan shalat.

*.Orang tua wajib menganjurkan anak-anaknya shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.

*.Pentingnya masalah tauhid dan shalat.

*.Boleh memukul anak bila ia tidak mau shalat, tetapi dengan pukulan yang mendidik dan tidak melukai.

*.Umurtamyîz(mulai berpikir dan bisa membedakan antara baik dan buruk) adalah umur tujuh tahun, sedangkan pubertas (mulai beranjak baligh) dimulai umur sepuluh tahun.

*. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara umur tujuh tahun dan sepuluh tahun, agar para pendidik memperhatikan fase-fase pendidikan anak.

*.Shalat merupakan tiang agama dan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat.

*.Wajib mengerjakan shalat lima waktu dengan ikhlas dan sesuai contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .*

*.Shalat anak-anak yang sudahmumayyiz(sudah bisa membedakan) adalah sah.[10]

*.Orang tua wajib melindungi anak-anak mereka dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dalam rumah tangga.

*.Orang tua wajib memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

*.Allâh Azza wa Jalla akan memberikan rahmat, keberkahan, dan cahaya bagi rumah tangga yang melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhkan maksiat, dan senantiasa menjaga shalat yang lima waktu.

*.Seluruh amal pada hari kiamat, baik dan tidaknya tergantung dari tauhid dan shalatnya

.MARAAJI’:*.Tafsîr Ibni Katsîr, cet. Daar Thaybah.*.Tafsîr ath-Thabari.*.Fat-hul Qadîr.*.Kutubus sittah.*.Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.*.Mîzânul I’tidâl, Imam adz-Dzahabi.*.Syarhus Sunnah, Imam al-Baghawi.*.Shahîh Sunan Abi Dawud, Imam al-Albani.*.Shahîh al-Jâmi’is Shaghîr, Imam al-Albani.*.Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhis Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilali.*.Sebaik-Baik Amal Adalah Shalat, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa, th. 1437 H/2016 M.*.Sifat Wudhu dan Shalat Nabi, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, th. 1437 H/2016 M.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M.