Hukum Shalat Berjamaah di Masjid


Ketahuilah bahwa shalat limawaktu harus kita kerjakan dengan berjama’ah. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk shalat berjama’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلَاةُ الرَّجُلِ فِـي الْـجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَىٰ صَلَاتِهِ فِـيْ بَيْتِهِ ،وَفِـيْ سُوْقِهِ ، خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّىٰ  لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّـيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ فِـيْ مُصَلَّاهُ: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah akan dilipat-gandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripadashalat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya,kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya untuk keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan shalat. Tidaklah ia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila ia shalat dengan berjama’ah, maka Malaikat akan senantiasa bershalawat (berdoa) atasnya, selama ia tetap di tempat shalatnya (dan belum batal). Malaikat akan bershalawat untuknya, ‘Ya Allâh! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allâh, berikanlah rahmat kepadanya.’ Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan shalat (mendapatkan pahala shalat) selama ia menunggu datangnya waktu shalat.’”[1]Dalam hadits lain, dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَاغَدَا أَوْ رَاحَ.Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik diwaktu pagi atau sore hari, maka Allâh menyediakan baginya hidangan di Surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.[3]Dari Anas Radhiyallahu anhu ,ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْجَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَىكُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.Barangsiapa shalat jama’ah dengan ikhlas karena Allâh selama empat puluh hari dengan mendapatitakbir pertama (takbiiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.[4]Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, rumah itulebih baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ber-jama’ah di masjid, bahkanketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda:لَا تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.Janganlah kalian melarang istri-istri kalian mendatangi masjid. Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.[5]

HUKUM SHALAT BERJAMAAH BAGI LAKI-LAKI

Hukum shalat berjama’ah bagi laki-laki adalah wajib, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” [Al-Baqarah/2: 43]Para Ulama berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya shalat berjama’ah.[6]Juga berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahuanhu, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ سَمِعَ الِنّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَاصَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ. Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya (shalatnya tidak sempurna-pent), kecuali karena adaudzur.[7]Di antara udzur yang membolehkan kita untuk meninggalkan shalat berjama’ah adalah sakit, bepergian (safar), hujan lebat,cuaca sangat dingin, dan udzurlainnya yang dijelaskan oleh syari’at.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat berjama’ah bagi orang yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid. Diriwayatkan dari AbuHurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sungguh, aku tidak memiliki orang yang mau mengantarkanku menuju masjid.’ Maka ia meminta keringanan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat di rumahnya, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan baginya. Namun, ketika ia telah beranjak, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata:هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَأَجِبْ.Apakah engkau mendengarsuara panggilan untuk shalat (adzan)?’ Ia menjawab, ‘Ya.’Maka Beliau bersabda, ‘Kalaubegitu penuhilah panggilan itu.’”[8] Pada kesempatan lainnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berniat untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak melakukan shalat berjama’ahdi masjid.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَـمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ لِيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَـهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَـالِفَ إِلَـىٰ رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَـهُمْ. وَالَّذِيْ نَـفْسِـيْ بِيَدِهِ ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَـجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَـاتَيْـنِ حَسَنَـتَيـْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.Sesungguhnya aku berniat menyuruh mengumpulkan kayu bakar, lalu aku menyuruh adzan untukshalat. Kemudian kusuruh seorang laki-laki mengimami orang-orang. Setelah itu, kudatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah dan kubakar rumah-rumah mereka. Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan memperoleh daging gemuk atau (dua kaki hewan berkuku belah) yang baik, niscaya ia akan mendatangi shalat ‘Isya’.”[9] Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya.Sangat disayangkan sebagian kaum Muslimin, padahal ia sebagai donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan para ustadznya, tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah berkata:مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِحَيْثُ يُنَادَىٰ بِهِنَّ ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى ، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَىٰ ، وَلَوْ أَنَّكُمْصَلَّيْتُمْ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّـيْ هٰذَا الْمُتَخَلِّفُ فِـيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّـةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ … وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ.Barangsiapa ingin bertemu dengan Allâh di hari kiamat kelak dalam keadaan Muslim,hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dimanapun ia diseru kepadanya. Sungguh, Allâh telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian n , sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Shalat lima waktu termasuk sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang tertinggal ini shalat di rumahnya (dia tidak shalat berjama’ah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah-sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat…Dansaya melihat (pada zaman) kami (para Shahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik, yang telah diketahuikemunafikannya.[10] Di zaman Sahabat, orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para Sahabat. Para Sahabat dan Tabi’in marah kepada laki-laki yang sehat, yang jelas tidak ada udzur syar’i untuk meninggalkan shalat berjama’ah.Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yaitu:وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ.Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telahdiketahuikemunafikannya.[11]Pada zaman para Sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan shalat berjama’ah. Kalau datang waktu Shubuh dan ‘Isya’, mereka enggan untuk hadir shalat berjama’ah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan shalat yang dilakukandi siang hari, mereka ikut berjama’ah karenariya’(pamer). Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah shalat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan wanita mengerjakan shalat di rumah.Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .Mengerjakan shalat berjama’ah tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit, tidak lebih lama dari waktu berdagang, kerja, kuliah, dan makan.Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat melaksanakan shalat yang lima waktu secara berjama’ah di masjid. Hanya kepada Allâh Azza wa Jallaitamemohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita bertawakkal.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2017M.

Iklan

Perintahkanlah Keluargamu Untuk Mendirikan Sholat


Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawasحفظه اللهDari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِSuruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuhtahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!TAKHRIJ HADITSHadits inihasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197; Dan al-Baghawi dalamSyarhus Sunnah, II/406, no. 505 dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam an-Nawawi t dalamal-Majmû’danRiyâdhush Shâlihîn. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya hasan shahih.” LihatShahîh Sunan Abi Dawud, II/401-402, no. 509.Hadits ini hasan, karena dalam sanadnya ada Sawwar bin Dawud Abu Hamzah al-Muzani as-Shairafi. Dia dikatakantsiqaholeh Ibnu Ma’in. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa.” Imam ad-Daraquthni berkata, “Tidak bisa dijadikanmutâba’ah, tapi haditsnya bisa dipakai. [LihatMîzânul I’tidâlII/345, no. 3611].Adapun ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, maka sanadnya hasan dan dipakai olehpara Ulama, seperti Imam Ahmad, Imam Ibnul Madini, Imam Ishaq bin Rahawaih, dan Imam al-Bukhâri.Hadits ini ada syahid dari Sabrah bin Ma’bad al-Juhani Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[1]SYARAH HADITSAllâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَWahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allâh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm/66:6]‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan, “Yaitu ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.”[2]‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Hendaklah kalian senantiasa melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan takutlah kalian dalam berbuat maksiat kepadaAllâh, serta perintahkanlah keluargamu agar berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla niscaya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkan kalian dari api neraka.”Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allâh dan hendaklah kalian mewasiatkan kepada keluarga kalian untuk selalu bertakwa kepada Allâh.”Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh dan melarang mereka berbuat maksiat kepada Allâh! Hendaklah kalian menegakkan perintah kepada mereka agar mereka selalu melaksanakanperintah Allâh. Suruhlah mereka melakukan kebaikan dan bersegera dalam melakukan kebaikan. Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiat kepada Allâh, maka hendaklah kalian larang dan cegah.”Adh-Dhahhak dan Muqatil mengatakan, “Wajib atas seorang Muslim untuk mengajarkan keluarganya, kerabat, dan para budaknya, baik laki-laki maupun perempuan, semua yang Allâh wajibkan atas mereka dan semua yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla .”[3]Ayat dalam surat at-Tahrîm ini bentuknya umum, yakni wajib bagi setiap kepala keluarga menjaga anggota keluarganya dari api neraka. Yaitu menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjauhkan semua perbuatan dosa dan maksiat. Wajib mengajak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , juga mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengajarkan mereka agar berbakti kepada kedua orang tua, mengerjakan shalat, berbuat kebaikan kepada keluarga, tetangga, sanak kerabat, dan lainnya. Begitu juga wajib melarang mereka dari berbuat syirik, melarang dari beribadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla , melarang dari perbuatan keji dan munkar. Serta melarang mereka dari perbuatan dosa dan maksiat.Orang tua wajib melarang dan mencegah mereka dari perbuatan maksiat, tidak boleh diam.Perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , kemudian shalat wajib yang lima waktu sehari semalam. Seorang bapak, wajib memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk shalat lima waktu, memperhatikan dan mengawasi mereka. Jangan sampai mereka tidak melaksanakan shalat. Karena meninggalkan shalat merupakan dosa besar yang paling besar setelah syirik.Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullah berkata, “Wajib bagi para bapak dan ibu untuk mendidik dan mengajarkan adab kepada anak-anak mereka, dan wajib mengajarkan cara bersuci (berwudhu, mandi, dan lainnya) dan (tata cara) shalat. Boleh orang tua memukul anak-anak mereka bila sudah paham (tentang wajibnya shalat). Anak laki-laki yang sudah bermimpi basah(baligh) dan anak perempuan yang sudah haidh atau genap berusia lima belas tahun, maka mereka sudah wajib mengerjakannya.”[4]Perintahkanlah istri, anak-anak, dan anggota keluarga yang ada di rumah kita untuk mengerjakan shalat wajib yang lima waktu sehari semalam dan bersabarlah dalam menyuruh mereka melakukannya.Allâh Azza wa Jalla berfirman:يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِWahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” [Luqmân/31:17]Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖلَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖنَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰDan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Thâhâ/20:132]Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mengerjakan shalat. Pertama kali, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk shalat, kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh keluarga kita untuk shalat. Ini memerlukan waktu dan kesabaran. Tidak boleh kita lalai dalam mengajak keluarga kita untuk shalat karena hal ini merupakan tanggung jawab. Dalam contoh realitanya, seorang anak yang pulang sekolah, pulang kuliah, maupun pulang dari bermain, tanyakanlah kepadanya tentang masalah shalat terlebih dahulu sebelum masalah yang lain. Begitu juga kepada sang istri, tanyakanlah tentang shalat ketika sudah tiba waktunya kemudian perintahkanlah untuk mendirikan shalat sehingga kewajiban untuk mengajak dan mengerjakan shalat telah kita tegakkan di lingkungan keluarga.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْأَمِيْرُ رَاعٍ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَىٰ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalianbertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dankamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas orang yang dipimpinnya.[5]Perhatikanlah wahai saudaraku! Apakah keluarga kita telah melakukan shalat pada waktunya setiap hari? Terlebih lagi bimbingan kepada anak kita tentang masalah shalat. Setiap orang tua wajib mengajarkan anaknya yang telah menginjak usia tujuh tahun untuk mengerjakan shalat, bahkan sejak usia dini. Apabila anak itu sudah mencapai sepuluh tahun ke atas, maka ajakan berupa perintah untuk mengerjakan shalat harus lebih tegas lagi. Seorang Muslim harus terus tetap mengajak keluarganya untuk mengerjakan shalat dan tidak boleh berdiam diri tanpa mengajak mereka untuk shalat.Ingatkanlah selalu keluarga kita tentang kewajiban mendirikan shalat karena shalat adalahperkara yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat dan shalat merupakan pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir kepada ummatnya. Seandainya kita tidak menyuruh keluarga kita untuk mendirikan shalat, maka ingat akibatnya akan berbahaya bagi kita, sebagai kepala keluarga, kita akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadits di atas, yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya.”Maksudnya, setiap kepala rumah tangga akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat tentang keluarga yang dipimpinnya; Apakah dia menyuruh keluarganya untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan melarang mereka dari perbuatan maksiat atau tidak? Apakah mereka menyuruh keluarganya melaksanakan shalat atau tidak?Semua manusia akan dihisab pada hari kiamat, dan yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِPerkara yang pertama kali dihisab dari seoranghamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabilashalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnyapun buruk.[6]Dalam hadits yang lain, dari Sahabat Abu HurairahRadhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ،فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْـجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ ؛ قَالَ الرَّبُّ : اُنْظُرُوْا ! هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَمِنَ الْفَرِيْضَةِ ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَىٰ ذٰلِكَSungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamat-lah dia. Namun jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci lagi Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya.’”[7]Wahai saudaraku…Sekaranglah waktunya untuk kita mengingatkan keluarga kita agar mendirikan kewajiban shalat. Karena waktu begitu pendek, entah kapan nyawa akan dicabut. Ini juga agar generasi sepeninggal kita tetap dalam ketaatan mengerjakan kewajiban mendirikan shalat. Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan tentang generasi mendatang sepeninggal orang-orang yang taat dalam firman-Nya:فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖفَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّاMaka datanglah sesudah mereka pengganti (yangjelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. [Maryam/19:59]Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa sepeninggal mereka (orang-orang yang taat), akan ada generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu serta akan menemui kesesatan.Bentuk menyia-nyiakan shalat itu banyak, diantaranya melalaikan kewajiban shalat atau melalaikan waktu shalat dengan tidak melaksanakan di awal waktu. Yang dengan itu, mereka akan menemui kesesatan, kerugian dan keburukan.[8]Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memerintahkan ummatnya agar mengingatkan putra-putri mereka untuk mengerjakan shalat ketika telah berumur tujuh tahun, dan apabila sudah berumur sepuluh tahun belum mau shalat, maka harus dipukul supaya dia mau shalat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[9]Makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemukulan adalah pukulan fisik bukan pukulan hati dan tidak mengandung konotasi yang lain. Namun, pukulan itu bukan pukulan yang melukai atau mencederai. Pukulan itu adalah pukulan yang mendidik.Ini adalah ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan pendidikan Islam.Kepada setiap kepala rumah tangga, hendaklah ia menyuruh isteri, anak, pembantu dan sopirnya untuk mengerjakan shalat.Setiap kepala rumah tangga, ayah dan ibu, wajib menyuruh anak-anaknya untuk shalat. Wajib memperhatikan orang yang di bawah tanggungannya, agar mereka melaksanakan shalat wajib yang lima waktu.Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِقَانِتِينَPeliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allâh dengan khusyuk.”[Al-Baqarah/2:238]Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan setiap kepala rumah tangga agar anak laki-laki dan perempuan dipisah kamarnya, dipisah tempat tidurnya. Tujuannya agar mereka terbiasa dipisah dalam tidur antara anak laki-laki dan perempuan. Pemisahan ini juga sebagai pencegahan dari hal-hal yang membawa kepada perbuatan keji.

FAWA’ID

*.Setiap kepala rumah tangga bertanggung jawab atas orang-orang yang ada dalam rumah tangganya.

*.Setiap orang tua wajib menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

*.Setiap orang tua wajib mendidik istri dan anak-anaknya di atas agama Islam yang benar.

*.Pertama kali yang wajib diajarkan kepada istridan anak-anak adalah tentang tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh saja.

*.Wajib bagi orang tua mengajarkan keluarga dan anak-anaknya tentang wudhu dan shalat.

*.Orang tua wajib menganjurkan anak-anaknya shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.

*.Pentingnya masalah tauhid dan shalat.

*.Boleh memukul anak bila ia tidak mau shalat, tetapi dengan pukulan yang mendidik dan tidak melukai.

*.Umurtamyîz(mulai berpikir dan bisa membedakan antara baik dan buruk) adalah umur tujuh tahun, sedangkan pubertas (mulai beranjak baligh) dimulai umur sepuluh tahun.

*. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara umur tujuh tahun dan sepuluh tahun, agar para pendidik memperhatikan fase-fase pendidikan anak.

*.Shalat merupakan tiang agama dan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat.

*.Wajib mengerjakan shalat lima waktu dengan ikhlas dan sesuai contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .*

*.Shalat anak-anak yang sudahmumayyiz(sudah bisa membedakan) adalah sah.[10]

*.Orang tua wajib melindungi anak-anak mereka dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dalam rumah tangga.

*.Orang tua wajib memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

*.Allâh Azza wa Jalla akan memberikan rahmat, keberkahan, dan cahaya bagi rumah tangga yang melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhkan maksiat, dan senantiasa menjaga shalat yang lima waktu.

*.Seluruh amal pada hari kiamat, baik dan tidaknya tergantung dari tauhid dan shalatnya

.MARAAJI’:*.Tafsîr Ibni Katsîr, cet. Daar Thaybah.*.Tafsîr ath-Thabari.*.Fat-hul Qadîr.*.Kutubus sittah.*.Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.*.Mîzânul I’tidâl, Imam adz-Dzahabi.*.Syarhus Sunnah, Imam al-Baghawi.*.Shahîh Sunan Abi Dawud, Imam al-Albani.*.Shahîh al-Jâmi’is Shaghîr, Imam al-Albani.*.Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhis Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilali.*.Sebaik-Baik Amal Adalah Shalat, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa, th. 1437 H/2016 M.*.Sifat Wudhu dan Shalat Nabi, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, th. 1437 H/2016 M.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. 

Kesalahan Zikir dan Doa dalam Shalat


Dzikir dan doa, dua hal yang tidak akan bisa dipisahkan dari shalat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيDan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.[Thaha/20:14]Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan  bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para makhluk-Nya beribadah kepada-Nya dengan segala macam ibadah. Kemudian setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan ibadah shalat, padahal ibadah shalat termasuk salah satu jenis ibadah. Ini menunjukkan bahwa ibadah shalat memiliki keistimewaan dan keutamaan. Disamping ibadah ini juga mencakup ibadah hati, lisan dan anggota badan.Beliau rahimahullah juga mengatakan, firman Allâh Azza wa Jalla,  (لِذِكْرِي) huruf lam yang ada dalam kalimat ini adalahlamlitta’lîl, artinya, “Dirikanlah shalat agar kamu mengingat-Ku!” karena mengingat Allâh Azza wa Jalla (dzikrullah)merupakan tujuan teragung dan ini adalah ibadah hati serta menjadi sebab kebahagiaan seorang hamba. Hati yang tidak pernah mengingat Allâh Azza wa Jalla merupakan hati yang jauh dari segala kebaikan serta mengalami kerusakan terparah.Berbagai jenis ibadah Allâh Azza wa Jalla syari’atkan kepada para hamba, tujuannya supayamereka mengingat Allâh Azza wa Jalla , terutama ibadah shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman:اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖإِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗوَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَBacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allâh itu (shalat) adalahlebih besar. dan Allâh mengetahui apa yang kamukerjakan.[Al-‘Ankabut/29:45]Maksudnya, dzikrullah yang terkandung dalam shalat itu lebih agung daripada (manfaatnya yang lain yaitu) shalat bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.[1]Mengingatdzikrullahdan shalat memiliki keterkaitan yang sangat erat, seyogyanya setiap kaum Muslimin memperhatikan masalah berbagaidzikir yang disyari’atkan dalam ibadah shalat, supaya tujuan dari perintah shalat bisa dirasakan, baik ketika dia sedang shalat ataupun di luar shalat. Juga agar terhindar dari berbagai kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang terkait doa dan dzikir dalam ibadah shalat.Berikut kami membawakan beberapa kesalahan terkadang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam shalat mereka. Semoga ini bisa mengingatkan kita dan memotivasi kita untuk terus memperbaiki ibadah shalat kita. Kesalahan-kesalahan ini, kami sarikan dari kitabal-Qaulul Mubîn fi Akhthâ’il Mushallînyang ditulis oleh Syaikh Masyhur hasan Salman, salah seorang murid syaikh al-Albani rahimahullah.Diantara kesalahan-kesalahan itu adalah:1. Membaca doa dan dzikir tidak pada tempatnyaIni akibat dari meninggalkan salah satu rukun shalat yaitu thuma’ninah. Syaikh Masyhur mengatakan, “Demi Allâh! Saya sering mendengardalam beberapa kesempatan ada orang yang mengucapkan doatahmîd(Rabbana wa lakal hamdu)ketika dahinya hampir menyentuh tanah (untuk sujud) dan membaca amin setelah al-Fatihah ketika turun untuk ruku’.”[2]Padahal seharusnya, doaRabbana wa lakal hamdumulai dibaca saat benar-benar sudah tegak berdiri, dibaca dengan tenang sambil memahami maknanya dan tidak bergerak untuk sujud sebelum tuntas membacanya. Bukan dibaca dalam pergerakan menuju sujud, bukan pula saat bergerak dari ruku’ ke i’tidal. Begitu pula dengan do’a-do’a dan dzikir-dzikir shalat lainnya. Dzikir sujud, baru mulai dibaca saat seluruh anggota badan sudah benar-benar dalam posisi sujud dan tidak bergerak sebelum dzikirnya selesai.2. Membaca doa, dzikir dan ayat hanya di dalam hati tanpa disertai gerakan lisan.Syaikh Masyhur Salman hafizhahullah mengatakan, “Diantara kesalahan yang banyak terjadi dalam pelaksanan ibadah shalat yaitu tidakmenggerakkan lisan ketika takbir, membaca al-Qur’an, membaca dzikir-dzikir shalat dan merasa cukup hanya dengan membacanya di dalam hati, seakan shalat itu hanya perbuatan fisik saja, tanpa ada perkataan juga dzikir.”Beliau juga mengatakan, “Seandainya membaca ayat-ayat hanya di dalam hati sudah dianggap cukup dalam shalat, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengatakan kepada orang shalatnya jelek (sebagaimana dalam hadits):ثم اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِKemudian bacalah bacaan al-Qur’an yang mudah bagimuKarena yang namanyaal-qirâ’ah(membaca), bukan hanya melewatkan bacaan (membacanya) dalam hati. Diantara tuntutan al-qirâ’ah menurut pengertian bahasa dan istilah adalah menggerakkan lisan, sebagaimana sudah diketahui umum. Diantara yang menunjukkan itu adalah firman Allâh Azza wa Jalla :لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِJanganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya[Al-Qiyâmah/75:16]3. Menambah do’a atau dzikir yang disyari’atkanDiantara kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin yaitu mereka menambahkan sebagian lafazh dalam dzikir atau do’a shalat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Diantara tambahan itu.a. Menambahkan lafazhwas-syukrketika i’tidalAda sebagian kaum Muslimin dalam shalat mereka yaitu mereka menambahkan lafazh asy-syukru setelah membacaRabbana wa lakal hamdu.Tambahan ini tidak ada dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .b. Menambahkan bacaanBismillahsebelum membaca tasyahhudSyaikh Masyhur mengatakan bahwa termasuk kesalahan juga ketika di awal tasyahhud seseorang mengucapkan,Bismillâh, lalu di akhir tasyahhud mengucapkan:as’alullâhal jannah(akumemohon surga kepada Allâh) dana`ûdzu billâh minan nâr(aku berlindung kepada Allâh dari neraka). Sebagian orang mengucapkan doa ini saat salam. Imam Muslim dalam kitabnyaat-Tamyîzhlm. 141-142 berkata,“Tasyahhud telah diriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai jalur yang shahih, tak ada sama sekali disebutkan di sana ucapan… :bismillâh wa billâh. Tidak pula disebutkan di penghujungnya:as’alullâhal jannahwaa`ûdzu billâh minan nâr.[3]c. Menambahkan Salam Dengan Kalimat “as alukal fauza bil jannah”dan “as alukan najâta minan nâr”(Syaikhul Islam ) Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang  yang ketika salam (menengok ) ke kanan dia mengucapkan:Assalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâh(dan menambahkan dengan)as’alukal fauza bil jannahdan ketika salam kearah kiri dia mengucapkan:Assalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâh(dan menambahkan dengan)asalukan najâta minan nârMaka apakah perkara (perbuatan) ini dimakruhkanatau tidak ?Maka beliau rahimahullah menjawab:Segala puji bagi Allâh. Ya, perkara ini dimakruhkankarena hal ini adalah bid’ah. Rasûlullâh Shallallahu‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, dan tidak ada satupun dari kalangan para Ulama yang menyarankannya. Dan ini adalah perkara membuat doa yang baru di dalam shalat yang dibaca bukan pada tempatnya. Doa tersebut memisahkan dua ucapan salam dan menyambung ucapan salam dengan kalimat yanglain. Padahal siapapun tidak boleh memisahkan bacaan-bacaan dalam (tata cara) shalat yang telah disyariatkan. Sebagaimana halnya bila dikatakanSami’allâhu liman hamidah(dan menyambungnya dengan)as’alukal fauza bil jannahdan mengucapkan Rabbanâ walakal hamdu(dan menyambungnya dengan)as’alukan najâta minan nâr”[4]Inilah beberapa kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin. Meskipun sebagiannya tidak mengakibatkan shalatnya batal, namun itu tetap sebagai kesalahan yang harus kita hindari.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M. 

Antara Doa Shalat dan Zikir


Dzikir dan do’a, dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيDan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.[Thaha/20:14]Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa firman Allâh Azza wa Jalla (لِذِكْرِي) huruf lam yang ada dalam kalimat ini adalahlam litta’lîl, artinya, “Dirikanlah shalat agar kamu mengingat-Ku!” karena mengingat Allâh Azza wa Jalla  (dzikrullah) merupakan tujuan teragung dan ini adalah ibadah hati serta menjadi sebab kebahagiaan seorang hamba. Hati yang tidak mengingat Allâh Azza wa Jalla  merupakan hati yang jauh dari segala kebaikan serta mengalami kerusakan terparah.Berbagai jenis ibadah Allâh Azza wa Jalla syari’atkan kepada para hamba, tujuannya supayamereka mengingat Allâh Azza wa Jalla , terutama ibadah shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman :اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖإِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗوَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allâh itu (shalat) adalahlebih besar. dan Allâh mengetahui apa yang kamukerjakan.[al-‘Ankabut/29:45]Maksudnya,dzikrullahyang terkandung dalam shalat itu lebih agung daripada (manfaatnya yang lain yaitu) shalat bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. [LihatTaisîr al-Karîmirrahmanketika menjelaskan Surat Thaha,ayat ke-14]Disamping itu, saat shalat adalah kesempatan emas bagi seseorang untuk memanjatkan do’a kepada Allah Azza wa Jalla. Di dalam hadits disebutkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُKetika salah seorang dari kalian sedang mengerjakan shalat maka sesungguhnya (saat itu) dia sedang bermunajat (berkomunikasi/ berbisik-bisik) dengan Rabbnya (AllâhSubhanahu wa Ta’ala)Hadits ini menunjukkan bahwa diantara saat yang paling tepat dan pantas bagi seorang hamba untuk menyampaikan permohonannya kepada Allâh Azza wa Jalla  adalah ketika dia sedang melaksanakan shalat, karena pada waktu itu dia sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Allâh Azza wa Jalla.Berdasarkan hadits-hadits yang shahih, para Ulama menyimpulkan bahwa ada enam atau tujuhtempat dalam shalat yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla ketika itu, yaitu : dalam do’aistiftahatauiftitahsetelahtakbîratul ihram, dalam do’a qunut shalat witir sebelum ruku’, di waktui’tidalsetelah bangkit dariruku’, di wakturuku’, di waktu sujud (semua sujud dalam shalat), di waktu duduk di antara dua sujud dan sebelum salam dari shalat (di akhir shalat), setelahtasyahuddanshalawat.Di antara tempat-tempat tersebut, ada dua tempatyang diperintahkan dan dianjurkan secara khusus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk memperbanyak do’a padanya, yaitu di waktu sujud dan setelahtasyahhudsebelum salam dari shalat.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدُ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَSedekat-dekatnya seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah do’a (pada waktu itu)Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu  bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:أَيُّ الدُّعَاءِأَسْمَعُ ؟ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِDo’a apakah yang paling didengar (dikabulkan oleh AllâhAzza wa Jalla)? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “(Do’a) di tengah malam (akhir malam) dan di ujung (akhir) shalat-shalat (lima waktu) yang wajibInilah pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat lalu diperjelas lagi oleh para Ulama.Jika demikian keadaannya, masih pantaskah kita terburu-buru dalam mengerjakan shalat? Layakkah kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini?Ya Allâh, Maha pengabul doa! Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang benar-benar menegakkan shalat dalam kehidupan kami dan jadikanlah ibadah shalat kami sebagai ibadah yang diterima![Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M.

Tata cara Bersedekah Menurut Al Quran dan Sunnah 


Segala puji bagi ALLAH azza wa jalla yang telah menjadikan segala sesuatunya berpasang-pasangan dan bertingkat-tingkat.begitu pula perihal kedudukan disisiNYA,maupun di mata manusia.karenatidaklah IA s.w.t. menetapkan sesuatu melainkan dengan takaran dan pertimbangan yang sangat sempurna.sebagaimana  layaknya dalam kehidupan, manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.dan tidaklah heran begitu pula dengan sesuatu yang telah IA tetapkan untuk saling berbagi dan memberi satu dengan lainnya.SYAITHAN MENJANJIKAN(MENAKUT-NAKUTI)KEMISKINAN KEPADAMU DAN MENYURUH KAMU BERBUAT KEJI(KIKIR),SEDANGKAN  ALLAH MENJANJIKAN AMPUNAN DAN KARUNIANYAKEPADAMU.DAN ALLAH MAHA LUAS,MAHA MENGETAHUI.”(Q.S Al-Baqarah 268).ORANG-ORANG YANG MENGINFAKKAN HARTANYA MALAM DAN SIANG HARI( SECARA) SEMBUNYI-SEMBUNYI MAUPUNTERANG-TERANGAN,MEREKA MENDAPATPAHALA DI SISI TUHANNYA.TIDAK ADA RASA TAKUT PADA MEREKA DAN MEREKA TIDAK BERSEDIH HATI”(Q.S Al-Baqaroh 274)Dalam tulisan ini penulis akan berbagi ilmutentang apa yang di sebut sedekah(shadaqah).Shadaqah terambil dari bahasa arab yang berarti pemberian.dan ini merupakan satu dari sekian banyak amal,ataupun cabang dari keimanan yang bisa mempertautkan kehidupan  manusia di bumi,antara yang berkelebihan harta dengan yang kekurangan.namun ketahuilah bahwasanya dalam bersedekah ALLAH azza wa jalla memberikan syariat ataupun aturan agar nantinya yang memberi(bersedekah)tidak merasa terpaksa ataupun di paksa.sebagaimana dalam firmanNYA:”dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu(kikir),dan jangan (pula)engkau terlalu mengulurkannya(sangat pemurah)nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.”(Q.S Al-Isra :29/lihat juga tentang  tafsir&asbabul nuzul nya dalam tafsir Ibnu Katsir)..namun peru di ketahui pula bahwa sanya bersedekah ini pun di perlukan niat dan keikhlasan dalam hati seseorang,agar nantinya tidak menjadi sia-sia ataupun malah menjadikannya seorang yang berdosa .sebagaimana yang rasulullah s.a.w sabdakan:” Sesungguhnyamanusia paling pertama yang akan dihisaburusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya & diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, & kamu telah dikatakan sepertiitu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dlm neraka. Dan(orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, & dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya & diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, & aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu  menunutut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim & kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  & kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dlm neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah & Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya & diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” & kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dlm neraka.” (HR. Muslim no. 1905/darishahabat Abu Hurairah r.a).sebelum penulis menyebutkan satu-persatu perihal tata cara bersedekah,maka akan di sebutkan dulu perihal dan macam sedekah.sedekah terbagi dua:

1.sedekah wajib:antara lain zakat,mengeluarkan harta untuk berjihad (berperang).berkurban pada 10 zulhijah(jika mampu).

2.sunnah dan yang di anjurkan:antara lain;memberikan bantuan kepada anak      yatim,fakir miskin,kerabat terdekat dll.Adapun yang wajib kita telah maklum dan tahu adanya.namun disini penulis ingin menjabarkan tentang tata cara bersedekahyang sunnah dan di anjurkan,tentunya dengan se izin ALLAH azza wa jalla .di samping ikhlas ,tidak ria (sebagaiman hadits di atas) berikut ini tata cara bersedekah yang baik dan benar:    1.bersedekah dengan hasil yang baik juga halal,sebagaimana yang ALLAH s.w.t.firmankan:”wahai orang-orang yang beriman!infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian yang kami keluarkan dari bumi untukmu.dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan.padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata(enggan)terhadapnya.dan ketahuilah ALLAH maha kaya,maha terpuji”(Q.S Al-Baqaroh 267).dalam hal ini rasulullah s.a.w bersabda:”sesungguhnya ALLAH itu maha baik,tidak menerima sesuatu kecualiyang baik.”(Muslim ; dari shahabat  Abu Hurairah r.a)

2..tidak menyebut dan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti,baik di depan si penerima maupun di belakangnya sebagaimana yang ALLAH s.w.t firmankan:”orang yang menginfakkanhartanya di jalan ALLAH,kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti(perasaan penerima),mereka memperoleh pahala di sisi tuhan mereka.tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang di iringi tindakan yang menyakiti.ALLAH maha kaya,maha penyantun.wahai orang-orang yang beriman!janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebutnya dan meyakiti(perasaan penerima)seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria(pamer)kepada manusia dan dia tidak beriman kepada ALLAH dan hari akhir.”(Q.S Al-Baqaroh 262-264).dalam hal ini rasulullah s.a.w bersabda:”berinfaklah demikian,demikian,demikian.janganlah kamu menahan-nahannya (menghitung-hitungnya)maka ALLAH akan menahannya((rezki)dan janganlah kamu mengikat rizkimu,nanti ALLAH akan mengikat rizkimu.”.(Bukhari-Muslim dari Asma Binti Abu Bakar as-shidiq r.a) 3. mendahulukan kerabat terdekat,seperti kakak,adik paman,bibi dll.sebagaimana yang di sabdakan rasulullah s.a.w,dari Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits r.a,waktu itu ia memerdekakan budaknya yangt perempuan dan tidak meminta izin kepadanabi s.a.w.ketika itu tiba gilirannya,ia berkata;’ya rasulullah,apakah engkau merasakan saya telah memerdekakan budak perempuan saya?’maka trasul;ullah sa.w.bersabda:”seandainya engkau memberikan kepada bibimu,niscaya engkau mendapatkan pahala lebih banyak.”(Bukhari-Muslim).).ini juga bisa dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya.sebagaimana yang di lakukan oleh seorang shahabiayah(shahabat wanita ) dalam sebuah hadits yang di riwayatkanZainab Ats-Tsaqafiyyah, istri Abdullah bin Mas’ud r.a, pernah minta izin menemui Rasulullah s.a.w. Ketika disebutkan nama Zainab di hadapan Rasulullah s.a.w , beliau bertanya: “Zainab yang mana?” Dijawab, “Istri Ibnu Mas’ud.” Beliau berkata, “Iya, izinkan dia masuk.” Maka diizinkanlah Zainab, ia bertanya, “Wahai Nabiyullah! Engkau hari ini memerintahkan kami bersedekah. Aku memiliki perhiasan, aku ingin menyedekahkannya. Namun Ibnu Mas’ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya adalah orang yang paling pantas memperoleh sedekahku itu.” Nabi s.a.w. bersabda, “Benar kata Ibnu Mas’ud, suami dan anakmu adalah orang yang paling pantas mendapatkan sedekahmu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 1462)

4.bersedekah dengan tetangga yang terdekat.sebagaimana yang di sabdakan oleh rasulullah s.a.w.:”malaikat jibril berpesan kepadaku untuk senantiasa berbuat baik dengan tetangga,sehingga aku mengira bahwa tetangga itu akan ikut mewarisinya.”(Bukhari-Muslim dari  Ibnu Umar  r.a dan Aisyah r.a).dan sabda beliau lainnyadari Aisyah r.a ia berkata;’sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga,maka siapakah yang harus saya dahulukan?’beliau  menjawab:”kepada tetangga yang terdekat”(Bukhari)

5.bersedekah kepada orang alim,orang sholih,dan orang yang terikat kepada jalan ALLAH.sebagaimana yang di firmankanNYA:”(apa yang kamu infakkan)adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang(usahanya karena jihad)di jalan ALLAH.sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi.(orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah  orang-orang kaya,karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta).engkau(muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya,mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain.apapun harta yang baik kamu infakkan,sungguh ALLAH maha mengetahui.”(Q.S .Al-Baqaroh 273).dalam hal ini rasulullah s.a.w bersabda:”barang siapa  saja yang menyediakan perbekalan perang di jalan ALLAH,maka ia di samakandengan perang.dan barang siapa yang tidak ikut berperang,lalu menjaga baik-baikkeluarga,yang di tinggalkan orang yang berperang,maka ia telah ikut berperang(Bukhari-Muslim dari shahabat Abu Abdulrahman Zaid bin Khalid r.a).dan dalam sabda rasulullah s.a.w.lainnya;”bertemanlah dengan orang-orang shalih.dan usahakanlah makananmu hanya di makan oleh orang-orang yang bertaqwa.”(Abu Daud,Thirmidzi,Al-Hakim)

6.kepada orang yang jauh dan tak di kenal.sebagaimana keumuman ayat serta hadits rasulullah s.a.w.sebagai manafirmanNYA:”perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLAH seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai.pada setiap tangkai ada seratus biji.ALLAH melipat gandakan bagi siapa saja yang DIA kehendaki.dan ALLAH maha luas,maha megetahui”(Q.S.Al-Baqaroh 261))dan rasulullah s.a.w bersabda:”suci adalah sebagian dari iman.alhamdulillah dapat memenuhi timbangan.subhanallah dan alhamdulillah itu dapat memenuhi semua antara langit dan bumi.shalat adalah cahaya.sedekah itu bukti iman.sabar adalah pelita.al-qur’an adalah hujjah untukmu  terhadap apa yang di suka ataupun yang tak di suka.semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,kemudian ada yang membebaskan dirinya,adapula yang membinasakan dirinya.”(Bkuhari-Muslim dari shahabat Abu Malik Al-Haits bin Ashim Al-Asy’ari r.a))

7.memberikan pinjaman uang ataupun memberikan hutang kepada orangyang memerlukan.sebagaimana yang di sabdakan rasulullah s.a.w:”sesungguhnya memberikan pinjaman(hutang)itu pahalanya separuh sedekah.”(Ahmad).dansabda beliau s.a.w lainnya:”ada seorang pedagang yang memberi hutang kepada manusia.bila ia melihat orang yang berhutang dalam ke sulitan,ia berkata kepada anaknya;’bebaskanlah ia dari hutang.semoga ALLAH juga membenaskan kita.’maka ALLAHpun membebaskannya.”(Bukhari/Muslim x/226)

8.memberikan bantuan kepada pembangunan sarana ibadah,jalan,jembatan dan sarana umum lainnya.berdasarkan keumumun ayat dan hadits tentang sedekah.

9.memberikan makan atau minum kepada hewan yang sedang memerlukan.sebagaimana yang di sabdakan rasulullah s.a.w:”telah di ampunidosa seorang wanita pelacur yang  melewati seekor anjing  yang menjulurkan lidahnya di sebuah sumur,dan ia berkata:”anjing ini hampir mati ke hausan.”lalu di lepasnya sepatunya,dan di ikatkan ke kerudungnya,lalu di berinya minum.kemudian ia di ampuni karena memberi anjing itu minum.”(Bukhari.dari shahabat Abu Hurairah r.a). dan dalam hadits lainnya dari Abu Hurairah r.a ia berkata ;’rasulullah s.a.w bersabda:”ketika seorang berjalan di sebuah jalan saat panas menyengat,maka ia menemukan sebuah sumur.lalu ia turun dan minum.kemudian keluar.kemudian ada seekor anjing yg sedang menjulurkan lidahnya menjilat debu karena haus.orang itu berkata;’sungguh anjing ini merasakan haus seperti aku rasakan tadi.maka ia turun dan mengisi sepatunya dengan air kemudian memegangnya dengan mulutnya,hingg bisa naik dan memberi anjing itu minum.(maka ALLAH berterima kasih dan mengamuninya)mereka bertanya;’wahai rasulullah!sesungguhnya bagi kami pahala dalam binatang?beliau menjawab:”di setiap makhluk hidup ada pahalanya.”(Mutafaqun’alaihi)

Demikianlah perihal tata cara bersedekah yang penulis ketahui.semoga bermanfaat dan dapat di ambil pelajaran dan pertimbangan di dalamnya.ahkirnya shalawat serta salam terlimpah dan tercurah kepada penutup para nabi dan rasul,panutan dan ikutan bagi seluruh manusia Muhammad bin Abdullah s.a.w.serta tak lupa juga  keridhoan ALLAH selalu tercurah kepada para shahabat beliau seluruhnya,para tabi’in,tabi’ut tabi’in dan orang –orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Keutamaan berdoa di waktu tertentu pada hari Jumat


Oleh

Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.  رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari Jum’at, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di hari Jum’at ada suatu waktu (tertentu) yang ketika itu jika bertepatan dengan seorang Muslim yang sedang shalat (dan) memohon sesuatu kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala maka pasti Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan permohonannya tersebut”, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa waktu itu sangat singkat[1]. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]
Dalam hadits yang agung ini terdapat keutamaan besar bagi orang yang berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla di waktu tersebut, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan baginya pengabulan do’a.
Imam al-Munawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat (penjelasan tentang) keutamaan hari Jum’at karena dikhususkan padanya waktu pengabulan do’a, juga keutamaan berdo’a dan anjuran memperbanyaknya pada waktu itu”[2].
Ada beberapa pendapat Ulama tentang maksud ‘waktu tertentu’ dalam hadits ini[3], akan tetapi pendapat yang paling kuat dan lebih dekat dengan argumentasi yang shahih adalah dua pendapat:
1. Waktu tersebut adalah waktu di antara duduknya imam (khathib) di atas mimbar sampai berakhirnya shalat Jum’at.
Pendapat ini dikuatkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah[4]. Ini berdasarkan hadits riwayat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ
Waktu tertentu itu adalah (waktu) di antara duduknya imam (khathib di atas mimbar) sampai berakhirnya shalat Jum’at[5].
2. Waktu tersebut adalah waktu di antara sesudah shalat Ashar sampai matahari terbenam.
Pendapat ini dipilih oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan Imam Ahmad rahimahullah [6]. Pendapat ini juga berargumentasi dengan sebuah hadits yang shahih dari ‘Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ
Waktu tertentu itu adalah di akhir waktu siang (sebelum matahari terbenam).[7]
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menguatkan kedua pendapat di atas[8], sementara Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menguatkan pendapat yang kedua.[9]
Ada juga pendapat ketiga yang dikuatkan oleh sebagian dari para Ulama, seperti Imam Muhibbuddin ath-Thabari rahimahullah, yaitu bahwa waktu itu berubah-ubah seperti malam Lailatul qadr.[10]
Adapun faidah disamarkannya waktu pengabulan do’a dalam hadits di atas adalah untuk motivasi agar memperbanyak do’a dan istigfar (memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla ) di semua waktu, karena kalau waktu tersebut disebutkan kapan persisnya maka dikhawatirkan akan menjadikan manusia hanya berdo’a di waktu itu dan meninggalkan waktu-waktu yang lain.
Kemudian isyarat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits di atas bahwa waktu itu sangat singkat, ini menunjukkan bahwa waktu pengabulan do’a ada di sela-sela waktu yang disebutkan dalam pendapat-pendapat di atas, jadi bukan berarti semua waktu itu adalah waktu pengabulan do’a[11].
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo

Motivasi Mengapai Sukses Dunia Akhirat


Islam mengajarkan agar umatnya untuk hidup terbebas dari kemiskinan, sebagaimana do’a Rasulullah :“…Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin dan kekafiran…”Hadits Shahih atas syarat Bukhari, dikeluarkan oleh Imam Hakim (1/530) dan Imam Ibnu Hibban (no. 2446).Di dalam salah satu hadis,Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menjadi dermawan dan bukan menjadi peminta-minta.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik bin Anas -sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya- dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar, beliau menyebut tentang sedekah dan menahan diri dari meminta-minta. Sabda beliau: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta (HR. Muslim No.1715)

Dalam praktek peribadatan, sesungguhnya sangat banyak kita ditemui perintah-perintah yang pada hakekatnya,memberi motivasi untuk hidup berkecukupan, di antaranya :

01. Di dalam bacaan Shalat duduk diantara dua sujud, kita selalu memohon untuk diberikan kelapangan rezeki.

RABBIGHFIRLI WARHAMNI WAJBURNIWARFA’KNI WARZUQNI WAHDINI WA’AFINI WA’FU ‘ANNI.

artinya:Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilahaku, perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, sehatkanlah aku dan maafkanlah aku.

02. Hidup berumah tangga, adalah salah satu cara memperoleh karunia ALLAH serta memberi motivasi kita untuk hidup layak, dimana memberi nafkah untuk keluarga bernilai Shadaqah.

Firman ALLAH :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkannya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui,”(QS an-Nuur (24) ayat 32).

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Apa yang engkau berikan untuk memberi makan dirimu sendiri, maka itu adalah shadaqah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan anakmu, maka itu adalah shadaqah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan ORANG TUAmu, maka itu adalah shadaqah bagimu. Dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan isterimu, maka itu adalah shadaqa bagimu…”[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727;dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah.

Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya[HR. Muslim (2/574)]

03. Shalat Tahajud, sarana menggapaikebaikan dunia dan akhirat.

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim)

04. Shalat Dhuha, adalah bentuk peribadatan bernilai sedekah, serta Kunci mendapatkan Rezeki.

Rasulullah bersabda :“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.”(HR Hakim dan Thabrani)

Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah,setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim)

05. Mencegah orang lain berbuat mungkar

Allah Ta’ala berfirman: 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah (9) ayat 71)

06. Pembebasan Hutang

Dan keutamaan seorang yang membebaskan hutang saudaranya, akan mendapat kemudahan dari ALLAH di hari akhir Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barang siapa yang melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melonggarkan satu kesusahannya di akhirat.

Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang ditimpa kesulitan (hutang), niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat
Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia juga menolong saudaranya.”(Riwayat Muslim)
07. Menuntut Ilmu dengan tujuan agar memberi kebaikan kepada orang lain.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

“Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim].
08. Kita diperintahkan untuk meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup.
Rasulullah bersabda :“Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia (meminta-minta)”.[Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan lain-lain]
09. Menghidupi Karyawan .
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan pelayanmu, maka itu adalah shadaqah bagimu.”[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727;dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]
10. Membantu orang yang berjuang di jalan ALLAH.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda : “Barangsiapa menyiapkan bekal bagi seorang mujahid di jalan Allah sungguh ia telah berjihad dan barangsiapa menjaga keluarga yang ditinggalkan seorang mujahid maka sungguh ia telah berjihad”(HR.Muslim : 12/425)

11. Pembagunan Masjid

Rasulullah bersabda:مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِالْجَنَّةِ“Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di dalam syurga.” Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal: “rumah di dalam syurga.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
12. Memberi makanan berbuka puasaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yangberpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.”(HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
13. Menjadi juru dakwah
Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyeru ke jalan petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikitpun dari pahala-pahala amal mereka sama sekali. Barangsiapa menyeru kepada jalan yang menyesatkan, maka baginya dosa semisal (sama) dosa orang-orang yang mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka sama sekali.” (Shahih Ibnu Majah : No. 0172).
14. Pelindung bagi anak Yatim
ALLAH berfirman :

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.[QS. al-Insân (76) ayat 8-9].
15. Bersedekah adalah mengundang rezeki
Rasulullah saw bersabda:“Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, bertambah.”(HR. Al Tirmidzi)
16. Infaq menghindari diri dari kebinasaan
ALLAH berfirman :

Dan berinfaklah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. AlBaqarah (2) ayat 195)
17. Zakat adalah sebagai pembersih
ALLAH berfirman :“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.[QS. At Taubah (9) ayat 103].
18. Ber-Qurban
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnyabapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kamiakan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]
19. Haji dan Umroh adalah ibadah dengan dana yang lumayan besar, dan menjadi sarana terkabulnya do’a,dimana balasan bagi Haji yang Mabrur, adalah SurgaDari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menunaikan haji dan umrah, adalah delegasi Allah. (ketika) Allah menyeru mereka, maka mereka memenuhi panggilan-Nya. Dan (ketika)mereka meminta kepada-Nya, maka Allah mengabulkan (pemintaan mereka).”[Hasan: Sunan Ibni Majah (II/966, no. 2893); lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2339)]Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.”[ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (III/597, no. 1773), Shahiih Muslim (II/987, no. 1349), Sunan at-Tirmidzi (II/206, no. 937), Sunan Ibni Majah (II/964, no. 2888), Sunan an-Nasa-i (V/115)

Teladan Sahabat

Para sahabat, yang dikenal sebagaiMILYADER,antara lain :
1. Utsman bin Affan ra.
Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta, setara dengan nilai Rp. 3 Milyar, serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas, yang setara dengan Rp. 2,37 Milyar.Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman ra. masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham (setara dengan Rp. 2,05875 Trilyun) dan 100.000 dinar (setara dengan Rp. 237 Milyar).

2. Abdurrahman bin Auf  ra.Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas atau setara dengan Rp. 3,5 Milyar.Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah, atau setara dengan nilai Rp. 118,5 Milyar.Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin), memberitakan ketika Abdurrahman bin Auf ra. wafat, beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan warisan sebesar 30.000 dinar emas. Hal ini berarti keseluruhan istri-nya memperoleh 120.000 dinar emas, yang merupakan 1/8 dari seluruh warisan.Dengan demikian total warisan yang ditinggalkan oleh Abdurrahman bin Auf ra, adalah sebesar 960.000 dinar emas, atau jika di-nilai dengan nilai sekarang setara dengan Rp. 2,2752 Trilyun.