Maghrifatullah Menurut Alquran dan Sunnah


Ma’rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?. Segelas susu yang dibikin seseorang tidakakan pernah mengetahui seperti apakah orang yang telah membuatnya menjadi segelas susu.Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yangdimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.Ma’rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma’riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.CIRI-CIRI DALAM MA’RIFATULLAHSeseorang dianggap ma’rifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali1. asma’ (nama) Allah2. sifat Allah dan3. af’al (perbuatan) Allah, yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.Kemudian dengan bekal pengetahuan itu, ia menunjukkan :1. sikap shidq (benar) dalam ber -mu’amalah (bekerja) dengan Allah,2. ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,3. pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah SWT4. sabar/menerima pemberlakuan hukum/aturan Allah atas dirinya5. berda’wah/ mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya6. membersihkan da’wahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.Figur teladan dalam ma’rifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang paling utama dalam mengenali Allah SWT.Sabda Nabi : “Sayalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya”. HR Al Bukahriy dan Muslim. Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.Tingkatan berikutnya, setelah Nabi adalah ulama amilun ( ulama yang mengamalkan ilmunya). Firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” QS. 35:28Orang yang mengenali Allah dengan benaradalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cintadunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”URGENSI MA’RIFATULLAHa. Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhlukhidup lain (binatang ternak). QS.47:12b. Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpamusibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur” (HR.Muslim)Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.c. Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat denganAllah.d. Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.e. Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akherat.SARANA MA’RIFATULLAHSarana yang mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah adalah :a. Akal sehatAkal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah : Katakanlah “ Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. QS 10:101, atau QS 3: 190-191Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu’aimb. Para RasulPara Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang ma’rifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakuisebagai orang yang paling mengenali Allah. Firman Allah :“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..” QS. 57:25c. Asma dan Sifat AllahMengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allahakan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Firman Allah :“Katakanlah : Serulah Allah atau serulah ArRahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma’ al husna (nama-nama yang terbaik) QS. 17:110Asma’ al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya dalam berdoa. Firman Allah :“ Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu…” QS. 7:180Inilah sarana efektif yang Allah ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali Allah SWT (ma’rifatullah). Dan ma’rifatullah ini tidak akan realistis sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu : tauhid rububiyyah, tauhid asma dan sifat. Kedua tauhid ini sering disebut dengan tauhid al ma’rifah wa al itsbat ( mengenal dan menetapkan) kemudian tauhid yang ketigayaitu tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.Wallahu a’lam

Iklan

NIKMAT YANG LEBIH BAIK MENURUT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DARIPADA NIKMAT HARTA


Di dalam kehidupan dunia, seorang Muslim tidak pernah lepas dari rahmat Allâh Azza wa Jalla yang luas, dalam bentuk kucuran nikmat-nikmat-Nya yang tiada putus. Anugerah dan nikmat Ilahi yang diperolehnya pun amat beragam: nikmat kesehatan, keselamatan, rezki dan nikmat-nikmat dunia lainnya. Maka, dalam hal ini, orang kaya dan orang miskin sama-sama merasakan nikmat dari Rabb mereka.

Karunia dan kenikmatan berharga yang membuat hati riang-gembira biasa dipahami manusia dalam bentuk kenikmatan duniawi yang melimpah dan karunia yang banyak, seperti gaji yang meningkat, bonus kendaraan, lahirnya buah hati yang dinanti-nanti, kesembuhan dari penyakit setelah sekian lama menerpa tubuh dan lain-lainnya.

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pandangan lain tentang nikmat yang berharga dan lebih utama yang sepatutnya diteladani oleh umat Islam. Nikmat yang dimaksud tertuang dalam hadits mulia berikut ini.

Anas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ بِنِعْمَةٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ مَا أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

Tidaklah Allâh menganugerahkan kenikmatan apapun pada seorang hamba, lalu ia mengucapkan alhamdullillâh, kecuali apa yang Dia berikan (kepadanya berupa membaca alhamdullillâh) lebih utama daripada apa yang ia terima [HR. Ibnu Mâjah no.380. Syaikh al-Albâni menilai sebagai hadits berderajat hasan].

Dalam hadits ini, alhamdullillâh (pujian kepada Allâh) merupakan nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling agung yang tercurahkan kepada hamba-hamba-Nya, lebih agung daripada nikmat lain yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka seperti rezki, keselamatan, kesehatan ataupun hidup dalam mewah di dunia ini.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah telah menguraikan makna hadits di atas yang mungkin membekaskan kebingungan pada benak seseorang dengan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dengan penjelasan yang jelas lagi gamblang dengan mengatakan, “Yang dimaksud dengan nikmat (yang disebutkan pertama dalam teks hadits) adalah nikmat-nikmat duniawi, seperti keselamatan, sehat, terhindar dari marabahaya dan lain sebagainya. Sementara ucapan alhamdullillâh adalah nikmat agama. Keduanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla. Akan tetapi, nikmat Allâh kepada hamba-Nya berupa hidayah kepadanya untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dengan membaca alhamdullillâh lebih utama daripada nikmat-nikmat duniawi yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya. Nikmat-nikmat duniawi bila tidak dibarengi dengan syukur akan menjadi sumber petaka. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Hâzim rahimahullah, “Setiap nikmat tidak mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla, maka akan menjadi sumber petaka”. Maka, bila Allâhkmemberi taufik seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-nikmat duniawi dengan membaca memuji-Nya (membaca alhamdullillâh) atau bentuk-bentuk syukur lainnya, maka nikmat (mensyukuri) iniakan menjadi lebih baik dari nikmat-nikmat tersebut dan lebih dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla daripada nikmat-nikmat (duniawi) itu.”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Haatim dalam tafsirnya bahwa sebagian pegawai Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah pernah mengirim surat kepadanya yang isinya, “Sesungguhnya saya berada di daerah nikmat-nikmat (Allâh Azza wa Jalla ) sangat melimpah di sana. Dan aku kuatir warganya tidak mampu mensyukurinya”. Lalu ‘Umar bin ‘Aziz rahimahullah mengirim balasan surat itu dengan menulis, “Sesungguhnya sebelumnya aku memandangmu lebih mendalam dalam mengenal Allâh daripada kondisimu sekarang. Sesungguhnya tidaklah Allah menganugerahi seorang hamba dengan nikmat apapun, lalu ia memuji Allah atas nikmat itu, kecuali pujiannya kepada Allâh tersebut lebih utama dari nikmat-Nya (yang ia terima)”.

Dengan ini, menjadi jelas maksud hadits di atas, bahwa seorang hamba yang dikarunia taufik untuk bersyukur dengan membaca alhamdulillâh, dan alhamdulillâh itu sendiri juga anugerah dari Allâh Azza wa Jalla, seandainya tidak ada taufik Allâh Azza wa Jalla dan bantuan dari-Nya, maka hamba tersebut tidak akan mampu untuk memuji-Nya. Nikmat Allâh Azza wa Jalla kepada seorang hamba dengan memberinya taufik untuk memuji Allâh Azza wa Jalla lebih utama daripada nikmat Allâh Azza wa Jalla kepadanya berupa kesehatan, keselamatan, harta-benda dan lain-lain. Dan semuanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla .

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nikmat bersyukur lebih agung daripada nikmat harta, kedudukan, anak, istri dan lainnya”. [2]

Inilah ulasan ringkas tentang nikmat besar dan utama yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat Islam tentang dahsyatnya nikmat mengucapkanalhamdulillâh usai seseorang memperoleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dari Allâh Azza wa Jalla .

Ya Allâh, bagi-Mu pujian sampai Engkau ridha, dan bagi-Mu pujian wahai Rabb kami, ketika Engkau ridha.

Wallâhu a’lam.

(Diadaptasi dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr Prof. Dr. Abdur Razzâq bin ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd 1/256-2580).

ORANG YANG BERUNTUNG MENURUT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM


Di dunia ini, setiap manusia ingin menjadi orang-orang yang beruntung setiap saat dan di manapun berada. Mereka berharap menjadi manusia-manusia yang bernasib mujur dan baik di alam fana ini. Dan pandangan mereka tentang keberuntungan dan kemujuran lebih terpaku pada raihan materi- materi duniawi dan selamat dari keburukan dan semua yang mereka takuti.

Apakah demikian hakikat keberuntungan dan nasib baik? Di atas, keberuntungan didefinisikan dengan meraih yang baik dan selamat dari yang buruk, akan tetapi dalam urusan-urusan yang bersifat duniawi. Bagaimana pandangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang yang beruntungitu?

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan karakter orang-orang yang memperoleh keberuntungan dan menjadi manusia-manusia yang bernasib mujur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَـنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ ..رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, dikaruniai rezeki yang cukup dan Allâh menjadikannya bersifat qanaah atas nikmat yang diberikan-Nya kepadanya. [HR. Muslim]

Dalam petunjuk di atas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keberuntungan bagi orang-orang yang menggenggam tiga karakter tersebut. Sebab, tiga sifat tersebut telah memadukan kebaikan agama dan dunia.

Seorang manusia bila telah memperoleh hidayah untuk memeluk Islam yang merupakan agama Allâh Azza wa Jalla yang tidak ada ajaran agama yang diterima selainnya, ia telah memiliki kunci untuk memperoleh pahala dan selamat dari siksa.

Selanjutnya, ia memperoleh rezeki yang mencukupi kebutuhan dirinya, sehingga dengan itu ia dapat menjaga kehormatannya untuk tidak meminta-minta atau mengemis kepada orang lain.

Lalu, Allâh Azza wa Jalla menyempurnakan anugerah pada dirinya dengan menjadikannya manusia yang bersifat qana’ah. Yaitu, orang yang ridha dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepadanya. Jiwanya menerima, tidak lagi rakus dengan menginginkan yang lebih dari itu.

Tentang ridha dengan pembagian rezeki ini , dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Ridhailah apa yang Allâh bagikan untukmu, maka engkau akan menjadi orang yang paling berkecukupan [HR. At-Tirmidzi dan lainnya]

Orang yang telah memperoleh tiga hal ini, ia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Ada kekurangan dengan tidak terpenuhinya tiga sifat ini atau salah satunya, semisal ia tidak mendapat hidayah untuk memeluk Islam, orang ini bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya kesudahannya adalah hidup celaka selamanya, di neraka.

Atau orang tersebut sudah memeluk Islam, namun ia diuji dengan kekurangan harta yang menyebabkannya lupa kepada Allâh Azza wa Jalla, sehingga memforsir seluruh tenaganya untuk bekerja dan bekerja atau kekayaan yang menjadikannya berbuat melampaui batas, dua keadaan ini berbahaya dan lubang kelemahan yang besar bagi orang itu.

Demikan juga orang yang sudah dikaruniai rezeki yang banyak, namun ia tidak qana’ah dengan rezeki dari Allâh Azza wa Jalla tersebut, akibatnya hatinya masih gelisah dengan apa yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya. Orang ini orang yang berhati dan berjiwa miskin.

Sesungguhnya kekayaan hakiki itu bukanlah karena berlimpahnya materi. Kekayaan hakiki adalah kecukupan yang ada dalam hati. Berapa banyak pemilik kekayaan yang berlimpah-ruah, akan tetapi hatinya merasa kekurangan lagi kecewa. Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang miskin dalam segi materi, akan tetapi hatinya kaya. Ia ridha dan menerima rezki pembagian dari Allâh Azza wa Jalla dengan qana’ah.

Orang yang berpendirian teguh, ketika dunia menyempit di hadapannya, ia tidak menggabungkan pada dirinya kesempitan dunia dan kemiskinan hati. Ia tetap berusaha untuk meraih ketenangan jiwa dan ketentraman, sebagaimana ia berusaha untuk mencari rezeki.

Wallâhua’lam.

(Diadaptasi dari Bahjatu Qulûbil Abrâri Wa Qurratu ‘Uyûnil Abrârifii Syarhi Jawâmi’I al-Akhyâr, Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di, Cet. I, Th.1415H-1995M)

Hukum Shalat Berjamaah di Masjid


Ketahuilah bahwa shalat limawaktu harus kita kerjakan dengan berjama’ah. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk shalat berjama’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:صَلَاةُ الرَّجُلِ فِـي الْـجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَىٰ صَلَاتِهِ فِـيْ بَيْتِهِ ،وَفِـيْ سُوْقِهِ ، خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّىٰ  لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّـيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ فِـيْ مُصَلَّاهُ: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah akan dilipat-gandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripadashalat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya,kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya untuk keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan shalat. Tidaklah ia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila ia shalat dengan berjama’ah, maka Malaikat akan senantiasa bershalawat (berdoa) atasnya, selama ia tetap di tempat shalatnya (dan belum batal). Malaikat akan bershalawat untuknya, ‘Ya Allâh! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allâh, berikanlah rahmat kepadanya.’ Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan shalat (mendapatkan pahala shalat) selama ia menunggu datangnya waktu shalat.’”[1]Dalam hadits lain, dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَاغَدَا أَوْ رَاحَ.Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik diwaktu pagi atau sore hari, maka Allâh menyediakan baginya hidangan di Surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.[3]Dari Anas Radhiyallahu anhu ,ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْجَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَىكُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.Barangsiapa shalat jama’ah dengan ikhlas karena Allâh selama empat puluh hari dengan mendapatitakbir pertama (takbiiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.[4]Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, rumah itulebih baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ber-jama’ah di masjid, bahkanketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda:لَا تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.Janganlah kalian melarang istri-istri kalian mendatangi masjid. Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.[5]

HUKUM SHALAT BERJAMAAH BAGI LAKI-LAKI

Hukum shalat berjama’ah bagi laki-laki adalah wajib, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” [Al-Baqarah/2: 43]Para Ulama berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya shalat berjama’ah.[6]Juga berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahuanhu, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ سَمِعَ الِنّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَاصَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ. Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya (shalatnya tidak sempurna-pent), kecuali karena adaudzur.[7]Di antara udzur yang membolehkan kita untuk meninggalkan shalat berjama’ah adalah sakit, bepergian (safar), hujan lebat,cuaca sangat dingin, dan udzurlainnya yang dijelaskan oleh syari’at.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat berjama’ah bagi orang yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid. Diriwayatkan dari AbuHurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sungguh, aku tidak memiliki orang yang mau mengantarkanku menuju masjid.’ Maka ia meminta keringanan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat di rumahnya, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan baginya. Namun, ketika ia telah beranjak, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata:هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَأَجِبْ.Apakah engkau mendengarsuara panggilan untuk shalat (adzan)?’ Ia menjawab, ‘Ya.’Maka Beliau bersabda, ‘Kalaubegitu penuhilah panggilan itu.’”[8] Pada kesempatan lainnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berniat untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak melakukan shalat berjama’ahdi masjid.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَـمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ لِيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَـهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَـالِفَ إِلَـىٰ رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَـهُمْ. وَالَّذِيْ نَـفْسِـيْ بِيَدِهِ ، لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَـجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَـاتَيْـنِ حَسَنَـتَيـْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.Sesungguhnya aku berniat menyuruh mengumpulkan kayu bakar, lalu aku menyuruh adzan untukshalat. Kemudian kusuruh seorang laki-laki mengimami orang-orang. Setelah itu, kudatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah dan kubakar rumah-rumah mereka. Demi (Allâh) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan memperoleh daging gemuk atau (dua kaki hewan berkuku belah) yang baik, niscaya ia akan mendatangi shalat ‘Isya’.”[9] Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya.Sangat disayangkan sebagian kaum Muslimin, padahal ia sebagai donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan para ustadznya, tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah berkata:مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِحَيْثُ يُنَادَىٰ بِهِنَّ ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى ، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَىٰ ، وَلَوْ أَنَّكُمْصَلَّيْتُمْ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّـيْ هٰذَا الْمُتَخَلِّفُ فِـيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّـةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ … وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ.Barangsiapa ingin bertemu dengan Allâh di hari kiamat kelak dalam keadaan Muslim,hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dimanapun ia diseru kepadanya. Sungguh, Allâh telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian n , sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Shalat lima waktu termasuk sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang tertinggal ini shalat di rumahnya (dia tidak shalat berjama’ah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah-sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat…Dansaya melihat (pada zaman) kami (para Shahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik, yang telah diketahuikemunafikannya.[10] Di zaman Sahabat, orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para Sahabat. Para Sahabat dan Tabi’in marah kepada laki-laki yang sehat, yang jelas tidak ada udzur syar’i untuk meninggalkan shalat berjama’ah.Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yaitu:وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ.Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telahdiketahuikemunafikannya.[11]Pada zaman para Sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan shalat berjama’ah. Kalau datang waktu Shubuh dan ‘Isya’, mereka enggan untuk hadir shalat berjama’ah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan shalat yang dilakukandi siang hari, mereka ikut berjama’ah karenariya’(pamer). Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah shalat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan wanita mengerjakan shalat di rumah.Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .Mengerjakan shalat berjama’ah tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit, tidak lebih lama dari waktu berdagang, kerja, kuliah, dan makan.Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat melaksanakan shalat yang lima waktu secara berjama’ah di masjid. Hanya kepada Allâh Azza wa Jallaitamemohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita bertawakkal.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2017M.

Perintahkanlah Keluargamu Untuk Mendirikan Sholat


Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawasحفظه اللهDari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِSuruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuhtahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!TAKHRIJ HADITSHadits inihasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197; Dan al-Baghawi dalamSyarhus Sunnah, II/406, no. 505 dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam an-Nawawi t dalamal-Majmû’danRiyâdhush Shâlihîn. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya hasan shahih.” LihatShahîh Sunan Abi Dawud, II/401-402, no. 509.Hadits ini hasan, karena dalam sanadnya ada Sawwar bin Dawud Abu Hamzah al-Muzani as-Shairafi. Dia dikatakantsiqaholeh Ibnu Ma’in. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa.” Imam ad-Daraquthni berkata, “Tidak bisa dijadikanmutâba’ah, tapi haditsnya bisa dipakai. [LihatMîzânul I’tidâlII/345, no. 3611].Adapun ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, maka sanadnya hasan dan dipakai olehpara Ulama, seperti Imam Ahmad, Imam Ibnul Madini, Imam Ishaq bin Rahawaih, dan Imam al-Bukhâri.Hadits ini ada syahid dari Sabrah bin Ma’bad al-Juhani Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[1]SYARAH HADITSAllâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَWahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allâh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm/66:6]‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan, “Yaitu ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.”[2]‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Hendaklah kalian senantiasa melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan takutlah kalian dalam berbuat maksiat kepadaAllâh, serta perintahkanlah keluargamu agar berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla niscaya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkan kalian dari api neraka.”Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allâh dan hendaklah kalian mewasiatkan kepada keluarga kalian untuk selalu bertakwa kepada Allâh.”Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Hendaklah kalian menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh dan melarang mereka berbuat maksiat kepada Allâh! Hendaklah kalian menegakkan perintah kepada mereka agar mereka selalu melaksanakanperintah Allâh. Suruhlah mereka melakukan kebaikan dan bersegera dalam melakukan kebaikan. Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiat kepada Allâh, maka hendaklah kalian larang dan cegah.”Adh-Dhahhak dan Muqatil mengatakan, “Wajib atas seorang Muslim untuk mengajarkan keluarganya, kerabat, dan para budaknya, baik laki-laki maupun perempuan, semua yang Allâh wajibkan atas mereka dan semua yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla .”[3]Ayat dalam surat at-Tahrîm ini bentuknya umum, yakni wajib bagi setiap kepala keluarga menjaga anggota keluarganya dari api neraka. Yaitu menyuruh mereka untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjauhkan semua perbuatan dosa dan maksiat. Wajib mengajak dan mengajarkan kepada mereka bagaimana beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , juga mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengajarkan mereka agar berbakti kepada kedua orang tua, mengerjakan shalat, berbuat kebaikan kepada keluarga, tetangga, sanak kerabat, dan lainnya. Begitu juga wajib melarang mereka dari berbuat syirik, melarang dari beribadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla , melarang dari perbuatan keji dan munkar. Serta melarang mereka dari perbuatan dosa dan maksiat.Orang tua wajib melarang dan mencegah mereka dari perbuatan maksiat, tidak boleh diam.Perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , kemudian shalat wajib yang lima waktu sehari semalam. Seorang bapak, wajib memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk shalat lima waktu, memperhatikan dan mengawasi mereka. Jangan sampai mereka tidak melaksanakan shalat. Karena meninggalkan shalat merupakan dosa besar yang paling besar setelah syirik.Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullah berkata, “Wajib bagi para bapak dan ibu untuk mendidik dan mengajarkan adab kepada anak-anak mereka, dan wajib mengajarkan cara bersuci (berwudhu, mandi, dan lainnya) dan (tata cara) shalat. Boleh orang tua memukul anak-anak mereka bila sudah paham (tentang wajibnya shalat). Anak laki-laki yang sudah bermimpi basah(baligh) dan anak perempuan yang sudah haidh atau genap berusia lima belas tahun, maka mereka sudah wajib mengerjakannya.”[4]Perintahkanlah istri, anak-anak, dan anggota keluarga yang ada di rumah kita untuk mengerjakan shalat wajib yang lima waktu sehari semalam dan bersabarlah dalam menyuruh mereka melakukannya.Allâh Azza wa Jalla berfirman:يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِWahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” [Luqmân/31:17]Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖلَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖنَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰDan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Thâhâ/20:132]Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mengerjakan shalat. Pertama kali, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk shalat, kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh keluarga kita untuk shalat. Ini memerlukan waktu dan kesabaran. Tidak boleh kita lalai dalam mengajak keluarga kita untuk shalat karena hal ini merupakan tanggung jawab. Dalam contoh realitanya, seorang anak yang pulang sekolah, pulang kuliah, maupun pulang dari bermain, tanyakanlah kepadanya tentang masalah shalat terlebih dahulu sebelum masalah yang lain. Begitu juga kepada sang istri, tanyakanlah tentang shalat ketika sudah tiba waktunya kemudian perintahkanlah untuk mendirikan shalat sehingga kewajiban untuk mengajak dan mengerjakan shalat telah kita tegakkan di lingkungan keluarga.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْأَمِيْرُ رَاعٍ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَىٰ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَىٰ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalianbertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dankamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas orang yang dipimpinnya.[5]Perhatikanlah wahai saudaraku! Apakah keluarga kita telah melakukan shalat pada waktunya setiap hari? Terlebih lagi bimbingan kepada anak kita tentang masalah shalat. Setiap orang tua wajib mengajarkan anaknya yang telah menginjak usia tujuh tahun untuk mengerjakan shalat, bahkan sejak usia dini. Apabila anak itu sudah mencapai sepuluh tahun ke atas, maka ajakan berupa perintah untuk mengerjakan shalat harus lebih tegas lagi. Seorang Muslim harus terus tetap mengajak keluarganya untuk mengerjakan shalat dan tidak boleh berdiam diri tanpa mengajak mereka untuk shalat.Ingatkanlah selalu keluarga kita tentang kewajiban mendirikan shalat karena shalat adalahperkara yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat dan shalat merupakan pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir kepada ummatnya. Seandainya kita tidak menyuruh keluarga kita untuk mendirikan shalat, maka ingat akibatnya akan berbahaya bagi kita, sebagai kepala keluarga, kita akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadits di atas, yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya.”Maksudnya, setiap kepala rumah tangga akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat tentang keluarga yang dipimpinnya; Apakah dia menyuruh keluarganya untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan melarang mereka dari perbuatan maksiat atau tidak? Apakah mereka menyuruh keluarganya melaksanakan shalat atau tidak?Semua manusia akan dihisab pada hari kiamat, dan yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِPerkara yang pertama kali dihisab dari seoranghamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabilashalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnyapun buruk.[6]Dalam hadits yang lain, dari Sahabat Abu HurairahRadhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ،فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْـجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ ؛ قَالَ الرَّبُّ : اُنْظُرُوْا ! هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَمِنَ الْفَرِيْضَةِ ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَىٰ ذٰلِكَSungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamat-lah dia. Namun jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci lagi Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya.’”[7]Wahai saudaraku…Sekaranglah waktunya untuk kita mengingatkan keluarga kita agar mendirikan kewajiban shalat. Karena waktu begitu pendek, entah kapan nyawa akan dicabut. Ini juga agar generasi sepeninggal kita tetap dalam ketaatan mengerjakan kewajiban mendirikan shalat. Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan tentang generasi mendatang sepeninggal orang-orang yang taat dalam firman-Nya:فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖفَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّاMaka datanglah sesudah mereka pengganti (yangjelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. [Maryam/19:59]Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa sepeninggal mereka (orang-orang yang taat), akan ada generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu serta akan menemui kesesatan.Bentuk menyia-nyiakan shalat itu banyak, diantaranya melalaikan kewajiban shalat atau melalaikan waktu shalat dengan tidak melaksanakan di awal waktu. Yang dengan itu, mereka akan menemui kesesatan, kerugian dan keburukan.[8]Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memerintahkan ummatnya agar mengingatkan putra-putri mereka untuk mengerjakan shalat ketika telah berumur tujuh tahun, dan apabila sudah berumur sepuluh tahun belum mau shalat, maka harus dipukul supaya dia mau shalat.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَفَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَاPerintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketikatelah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.[9]Makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemukulan adalah pukulan fisik bukan pukulan hati dan tidak mengandung konotasi yang lain. Namun, pukulan itu bukan pukulan yang melukai atau mencederai. Pukulan itu adalah pukulan yang mendidik.Ini adalah ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan pendidikan Islam.Kepada setiap kepala rumah tangga, hendaklah ia menyuruh isteri, anak, pembantu dan sopirnya untuk mengerjakan shalat.Setiap kepala rumah tangga, ayah dan ibu, wajib menyuruh anak-anaknya untuk shalat. Wajib memperhatikan orang yang di bawah tanggungannya, agar mereka melaksanakan shalat wajib yang lima waktu.Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِقَانِتِينَPeliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allâh dengan khusyuk.”[Al-Baqarah/2:238]Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan setiap kepala rumah tangga agar anak laki-laki dan perempuan dipisah kamarnya, dipisah tempat tidurnya. Tujuannya agar mereka terbiasa dipisah dalam tidur antara anak laki-laki dan perempuan. Pemisahan ini juga sebagai pencegahan dari hal-hal yang membawa kepada perbuatan keji.

FAWA’ID

*.Setiap kepala rumah tangga bertanggung jawab atas orang-orang yang ada dalam rumah tangganya.

*.Setiap orang tua wajib menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

*.Setiap orang tua wajib mendidik istri dan anak-anaknya di atas agama Islam yang benar.

*.Pertama kali yang wajib diajarkan kepada istridan anak-anak adalah tentang tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh saja.

*.Wajib bagi orang tua mengajarkan keluarga dan anak-anaknya tentang wudhu dan shalat.

*.Orang tua wajib menganjurkan anak-anaknya shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.

*.Pentingnya masalah tauhid dan shalat.

*.Boleh memukul anak bila ia tidak mau shalat, tetapi dengan pukulan yang mendidik dan tidak melukai.

*.Umurtamyîz(mulai berpikir dan bisa membedakan antara baik dan buruk) adalah umur tujuh tahun, sedangkan pubertas (mulai beranjak baligh) dimulai umur sepuluh tahun.

*. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara umur tujuh tahun dan sepuluh tahun, agar para pendidik memperhatikan fase-fase pendidikan anak.

*.Shalat merupakan tiang agama dan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah masalah shalat.

*.Wajib mengerjakan shalat lima waktu dengan ikhlas dan sesuai contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .*

*.Shalat anak-anak yang sudahmumayyiz(sudah bisa membedakan) adalah sah.[10]

*.Orang tua wajib melindungi anak-anak mereka dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dalam rumah tangga.

*.Orang tua wajib memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

*.Allâh Azza wa Jalla akan memberikan rahmat, keberkahan, dan cahaya bagi rumah tangga yang melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhkan maksiat, dan senantiasa menjaga shalat yang lima waktu.

*.Seluruh amal pada hari kiamat, baik dan tidaknya tergantung dari tauhid dan shalatnya

.MARAAJI’:*.Tafsîr Ibni Katsîr, cet. Daar Thaybah.*.Tafsîr ath-Thabari.*.Fat-hul Qadîr.*.Kutubus sittah.*.Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.*.Mîzânul I’tidâl, Imam adz-Dzahabi.*.Syarhus Sunnah, Imam al-Baghawi.*.Shahîh Sunan Abi Dawud, Imam al-Albani.*.Shahîh al-Jâmi’is Shaghîr, Imam al-Albani.*.Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhis Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilali.*.Sebaik-Baik Amal Adalah Shalat, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa, th. 1437 H/2016 M.*.Sifat Wudhu dan Shalat Nabi, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, th. 1437 H/2016 M.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. 

Kesalahan Zikir dan Doa dalam Shalat


Dzikir dan doa, dua hal yang tidak akan bisa dipisahkan dari shalat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيDan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.[Thaha/20:14]Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan  bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para makhluk-Nya beribadah kepada-Nya dengan segala macam ibadah. Kemudian setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan ibadah shalat, padahal ibadah shalat termasuk salah satu jenis ibadah. Ini menunjukkan bahwa ibadah shalat memiliki keistimewaan dan keutamaan. Disamping ibadah ini juga mencakup ibadah hati, lisan dan anggota badan.Beliau rahimahullah juga mengatakan, firman Allâh Azza wa Jalla,  (لِذِكْرِي) huruf lam yang ada dalam kalimat ini adalahlamlitta’lîl, artinya, “Dirikanlah shalat agar kamu mengingat-Ku!” karena mengingat Allâh Azza wa Jalla (dzikrullah)merupakan tujuan teragung dan ini adalah ibadah hati serta menjadi sebab kebahagiaan seorang hamba. Hati yang tidak pernah mengingat Allâh Azza wa Jalla merupakan hati yang jauh dari segala kebaikan serta mengalami kerusakan terparah.Berbagai jenis ibadah Allâh Azza wa Jalla syari’atkan kepada para hamba, tujuannya supayamereka mengingat Allâh Azza wa Jalla , terutama ibadah shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman:اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖإِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗوَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَBacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allâh itu (shalat) adalahlebih besar. dan Allâh mengetahui apa yang kamukerjakan.[Al-‘Ankabut/29:45]Maksudnya, dzikrullah yang terkandung dalam shalat itu lebih agung daripada (manfaatnya yang lain yaitu) shalat bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.[1]Mengingatdzikrullahdan shalat memiliki keterkaitan yang sangat erat, seyogyanya setiap kaum Muslimin memperhatikan masalah berbagaidzikir yang disyari’atkan dalam ibadah shalat, supaya tujuan dari perintah shalat bisa dirasakan, baik ketika dia sedang shalat ataupun di luar shalat. Juga agar terhindar dari berbagai kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang terkait doa dan dzikir dalam ibadah shalat.Berikut kami membawakan beberapa kesalahan terkadang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam shalat mereka. Semoga ini bisa mengingatkan kita dan memotivasi kita untuk terus memperbaiki ibadah shalat kita. Kesalahan-kesalahan ini, kami sarikan dari kitabal-Qaulul Mubîn fi Akhthâ’il Mushallînyang ditulis oleh Syaikh Masyhur hasan Salman, salah seorang murid syaikh al-Albani rahimahullah.Diantara kesalahan-kesalahan itu adalah:1. Membaca doa dan dzikir tidak pada tempatnyaIni akibat dari meninggalkan salah satu rukun shalat yaitu thuma’ninah. Syaikh Masyhur mengatakan, “Demi Allâh! Saya sering mendengardalam beberapa kesempatan ada orang yang mengucapkan doatahmîd(Rabbana wa lakal hamdu)ketika dahinya hampir menyentuh tanah (untuk sujud) dan membaca amin setelah al-Fatihah ketika turun untuk ruku’.”[2]Padahal seharusnya, doaRabbana wa lakal hamdumulai dibaca saat benar-benar sudah tegak berdiri, dibaca dengan tenang sambil memahami maknanya dan tidak bergerak untuk sujud sebelum tuntas membacanya. Bukan dibaca dalam pergerakan menuju sujud, bukan pula saat bergerak dari ruku’ ke i’tidal. Begitu pula dengan do’a-do’a dan dzikir-dzikir shalat lainnya. Dzikir sujud, baru mulai dibaca saat seluruh anggota badan sudah benar-benar dalam posisi sujud dan tidak bergerak sebelum dzikirnya selesai.2. Membaca doa, dzikir dan ayat hanya di dalam hati tanpa disertai gerakan lisan.Syaikh Masyhur Salman hafizhahullah mengatakan, “Diantara kesalahan yang banyak terjadi dalam pelaksanan ibadah shalat yaitu tidakmenggerakkan lisan ketika takbir, membaca al-Qur’an, membaca dzikir-dzikir shalat dan merasa cukup hanya dengan membacanya di dalam hati, seakan shalat itu hanya perbuatan fisik saja, tanpa ada perkataan juga dzikir.”Beliau juga mengatakan, “Seandainya membaca ayat-ayat hanya di dalam hati sudah dianggap cukup dalam shalat, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengatakan kepada orang shalatnya jelek (sebagaimana dalam hadits):ثم اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِKemudian bacalah bacaan al-Qur’an yang mudah bagimuKarena yang namanyaal-qirâ’ah(membaca), bukan hanya melewatkan bacaan (membacanya) dalam hati. Diantara tuntutan al-qirâ’ah menurut pengertian bahasa dan istilah adalah menggerakkan lisan, sebagaimana sudah diketahui umum. Diantara yang menunjukkan itu adalah firman Allâh Azza wa Jalla :لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِJanganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya[Al-Qiyâmah/75:16]3. Menambah do’a atau dzikir yang disyari’atkanDiantara kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin yaitu mereka menambahkan sebagian lafazh dalam dzikir atau do’a shalat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Diantara tambahan itu.a. Menambahkan lafazhwas-syukrketika i’tidalAda sebagian kaum Muslimin dalam shalat mereka yaitu mereka menambahkan lafazh asy-syukru setelah membacaRabbana wa lakal hamdu.Tambahan ini tidak ada dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .b. Menambahkan bacaanBismillahsebelum membaca tasyahhudSyaikh Masyhur mengatakan bahwa termasuk kesalahan juga ketika di awal tasyahhud seseorang mengucapkan,Bismillâh, lalu di akhir tasyahhud mengucapkan:as’alullâhal jannah(akumemohon surga kepada Allâh) dana`ûdzu billâh minan nâr(aku berlindung kepada Allâh dari neraka). Sebagian orang mengucapkan doa ini saat salam. Imam Muslim dalam kitabnyaat-Tamyîzhlm. 141-142 berkata,“Tasyahhud telah diriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai jalur yang shahih, tak ada sama sekali disebutkan di sana ucapan… :bismillâh wa billâh. Tidak pula disebutkan di penghujungnya:as’alullâhal jannahwaa`ûdzu billâh minan nâr.[3]c. Menambahkan Salam Dengan Kalimat “as alukal fauza bil jannah”dan “as alukan najâta minan nâr”(Syaikhul Islam ) Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang  yang ketika salam (menengok ) ke kanan dia mengucapkan:Assalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâh(dan menambahkan dengan)as’alukal fauza bil jannahdan ketika salam kearah kiri dia mengucapkan:Assalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâh(dan menambahkan dengan)asalukan najâta minan nârMaka apakah perkara (perbuatan) ini dimakruhkanatau tidak ?Maka beliau rahimahullah menjawab:Segala puji bagi Allâh. Ya, perkara ini dimakruhkankarena hal ini adalah bid’ah. Rasûlullâh Shallallahu‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, dan tidak ada satupun dari kalangan para Ulama yang menyarankannya. Dan ini adalah perkara membuat doa yang baru di dalam shalat yang dibaca bukan pada tempatnya. Doa tersebut memisahkan dua ucapan salam dan menyambung ucapan salam dengan kalimat yanglain. Padahal siapapun tidak boleh memisahkan bacaan-bacaan dalam (tata cara) shalat yang telah disyariatkan. Sebagaimana halnya bila dikatakanSami’allâhu liman hamidah(dan menyambungnya dengan)as’alukal fauza bil jannahdan mengucapkan Rabbanâ walakal hamdu(dan menyambungnya dengan)as’alukan najâta minan nâr”[4]Inilah beberapa kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin. Meskipun sebagiannya tidak mengakibatkan shalatnya batal, namun itu tetap sebagai kesalahan yang harus kita hindari.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M. 

Antara Doa Shalat dan Zikir


Dzikir dan do’a, dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman:وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيDan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.[Thaha/20:14]Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa firman Allâh Azza wa Jalla (لِذِكْرِي) huruf lam yang ada dalam kalimat ini adalahlam litta’lîl, artinya, “Dirikanlah shalat agar kamu mengingat-Ku!” karena mengingat Allâh Azza wa Jalla  (dzikrullah) merupakan tujuan teragung dan ini adalah ibadah hati serta menjadi sebab kebahagiaan seorang hamba. Hati yang tidak mengingat Allâh Azza wa Jalla  merupakan hati yang jauh dari segala kebaikan serta mengalami kerusakan terparah.Berbagai jenis ibadah Allâh Azza wa Jalla syari’atkan kepada para hamba, tujuannya supayamereka mengingat Allâh Azza wa Jalla , terutama ibadah shalat.Allâh Azza wa Jalla berfirman :اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖإِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗوَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allâh itu (shalat) adalahlebih besar. dan Allâh mengetahui apa yang kamukerjakan.[al-‘Ankabut/29:45]Maksudnya,dzikrullahyang terkandung dalam shalat itu lebih agung daripada (manfaatnya yang lain yaitu) shalat bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. [LihatTaisîr al-Karîmirrahmanketika menjelaskan Surat Thaha,ayat ke-14]Disamping itu, saat shalat adalah kesempatan emas bagi seseorang untuk memanjatkan do’a kepada Allah Azza wa Jalla. Di dalam hadits disebutkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُKetika salah seorang dari kalian sedang mengerjakan shalat maka sesungguhnya (saat itu) dia sedang bermunajat (berkomunikasi/ berbisik-bisik) dengan Rabbnya (AllâhSubhanahu wa Ta’ala)Hadits ini menunjukkan bahwa diantara saat yang paling tepat dan pantas bagi seorang hamba untuk menyampaikan permohonannya kepada Allâh Azza wa Jalla  adalah ketika dia sedang melaksanakan shalat, karena pada waktu itu dia sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Allâh Azza wa Jalla.Berdasarkan hadits-hadits yang shahih, para Ulama menyimpulkan bahwa ada enam atau tujuhtempat dalam shalat yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla ketika itu, yaitu : dalam do’aistiftahatauiftitahsetelahtakbîratul ihram, dalam do’a qunut shalat witir sebelum ruku’, di waktui’tidalsetelah bangkit dariruku’, di wakturuku’, di waktu sujud (semua sujud dalam shalat), di waktu duduk di antara dua sujud dan sebelum salam dari shalat (di akhir shalat), setelahtasyahuddanshalawat.Di antara tempat-tempat tersebut, ada dua tempatyang diperintahkan dan dianjurkan secara khusus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk memperbanyak do’a padanya, yaitu di waktu sujud dan setelahtasyahhudsebelum salam dari shalat.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدُ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَSedekat-dekatnya seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah do’a (pada waktu itu)Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu  bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:أَيُّ الدُّعَاءِأَسْمَعُ ؟ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِDo’a apakah yang paling didengar (dikabulkan oleh AllâhAzza wa Jalla)? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “(Do’a) di tengah malam (akhir malam) dan di ujung (akhir) shalat-shalat (lima waktu) yang wajibInilah pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat lalu diperjelas lagi oleh para Ulama.Jika demikian keadaannya, masih pantaskah kita terburu-buru dalam mengerjakan shalat? Layakkah kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini?Ya Allâh, Maha pengabul doa! Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang benar-benar menegakkan shalat dalam kehidupan kami dan jadikanlah ibadah shalat kami sebagai ibadah yang diterima![Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M.