Oleh M Arif Assalam

Ketika hujan turun, di sebagian tempat, air hujan menggenang di atas tanah. Di bagian tempat lain, air hujan menyusup masuk ke dalam tanah.

Air yang tergenang di atas tanah, setelah beberapa lama akhirnya mengering oleh panasnya matahari. Adapun tanah yang menyerap air, menjadi semakin subur, lembut, dan tumbuh darinya berbagai jenis tumbuhan dan tanaman.
Tanah yang keras seperti batu, tidak akan bisa menyerap air, karena tidak memiliki celah-celah yang bisa dimasuki air. Sedangkan tanah gembur, dapat dengan mudah menyerap air.

Demikian perumpamaannya. Hati yang lunak dan lembut, akan mudah menerima petunjuk dan kebenaran. Ia akan terbuka dan berlapang menerima nasihat dan kebaikan.

Di dalam hati yang lunak dan lembut, bibit kebaikan memang telah ada dan selalu dirawat pemiliknya, sehingga petunjuk dan kebenaran mendapat celah untuk masuk ke dalam hati.

Adapun hati yang keras bagai batu, sangat sulit menerima petunjuk dan kebenaran. Hati jenis ini telah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan. Ia menolak kebenaran, hingga berapa pun petunjuk yang datang kepadanya, tidak akan bermanfaat. Pintu hatinya telah tertutup oleh kesombongannya sendiri.

”Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS Albaqarah [2]: 6-7).

Dalam kehidupan yang kita jalani, sebagian orang ketika datang padanya kebenaran, ia dengan angkuh menolak dan berkata, ”Saya adalah paling benar, pendapat Anda salah.” Maka, berbicara pada orang seperti ini, tidak akan ada gunanya, karena ia sendiri yang telah menutup pintu hatinya untuk menerima tamu kebenaran.

Amatlah disayangkan sikap orang-orang yang selalu menolak kebenaran dan petunjuk. Karena penolakan mereka, sesungguhnya akan mengantarkan pada kebinasaan dan kehancuran di dunia dan akhirat.

Sebelum hati menjadi keras seperti batu, dari awal kita harus selalu merawatnya, menjaga kesuburannya dengan membiasakan mendengarkan Alquran dan men-tadabburi-nya. Lainnya, membaca sirah Rasulullah SAW, para sahabat dan orang-orang saleh, mengingat mati dan bergaul dengan orang-orang saleh yang setiap kata-kata mereka mengandung manfaat dan kebaikan.

Karena, bila hati telah keras, bagaimanakah cahaya petunjuk akan dapat diterima? Bagaimanakah guyuran hujan kebenaran akan dapat diserap dan dipahami? Dan sebelum itu terjadi, sebelum Allah SWT menutup mata hati, mari kita rawat bibit kebaikan dalam diri.