Sungguh, kaya bukanlah suatu keburukan bagi orang-orang yang mengamalkannya untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Begitu banyak dalil Al Quran yang mensyariatkan kaum muslim mencari kekayaan.

Bahkan Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmuuúl Fatawaa (21/144) menyebutkan bahwa “mencari kekayaan itu bisa jadi hukumnya adalah wajib, yaitu berlaku pada perkara-perkara yang harus dilakukan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban.”

Para ulama ushul mengatakan, “Maa Laa Yatimmul waajibu illa bihi, fa huwa waajib.. ” Ketika suatu kewajiban tidak dapat sempurna (terlaksana) kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu menjadi wajib hukumnya.

Dalil Al-Quran dapat kita bagi pada perkara:

1. Halalnya perdagangan dan jual beli Allah Swt berfirman: “…padahal Allah telah menghalalkan jual beli.” (QS. al-Baqarah [2]:275)

Allah Swt juga berfirman: “(Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.” (al-Baqarah [2]:282)

Allah swt berfirman: “…kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’[4]:29) Ayat-ayat ini mengungkapkan halalnya praktik jual beli (bisnis) yang dijalankan seorang muslim. Praktik bisnis merupakan satu jalan menjemput kekayaan sehingga mencari kekayaan juga disyariatkan.

2. Pentingnya niaga dan bisnis Allah Swt. berfirman: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk [67]:15)

Ayat ini memperlihatkan perintah Allah untuk berkeliling di seluruh negeri dan menikmati anugerah rezeki yang disediakan oleh-Nya. Tanpa sebuah ikhtiar seperti berniaga, perintah ini mustahil dijalankan. Begitu juga jika seseorang tidak berkemampuan dalam hal ilmu, kesehatan, dan kekayaan, bepergian akan sulit dilakukan.

Allah Swt berfirman: “… dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah” (QS. al-Muzzammil [73]:20)

Allah Swt memuji orang-orang yang berjalan di seluruh penjuru bumi untuk mencari rezeki dan karunia-Nya. Hal ini menunjukkan legalitas mencari kekayaan sebagai syariat sebab Allah tidak mensyariatkan kecuali perkara-perkara yang halal.

3. Anugerah Allah Swt yang tiada terhingga Allah Swt berfirman: “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]:14)

Pada ayat ini ditunjukkan bagaiman Allah Swt telah menganugerahkan kemudahan dan kekayaan bagi manusia dengan ditundukkannya lautan.

Lalu, bahtera pun dapat berlayar untuk menangkap ikan, mengeksplorasi bahan perhiasan, seperti emas, perak dan mutiara, serta menjadi alat transportasi untuk kepentingan angkutan manusia maupun barang dagangan.

Allah Swt berfirman: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” (QS. Al-Hijr [15]:19-20)

Ayat ini menjelaskan diperbolehkannya manusia untuk memanfaatkan hasil bumi, baik pertanian, pertambangan, bahkan hewan dan tumbuhan untuk kebutuhan manusia. Manusia bisa memanfaatkannya untuk kemakmuran hidup atau jalan memperoleh kekayaan.

4. Perintah berinfak, zakat dan sedekah; Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah [2]:267)

Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al Baqarah [2]:274)

Allah Swt berfirman: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadiid [57]:7)

Allah Swt berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq [65]:7)

Ayat-ayat tadi memperlihatkan keutamaan berinfak dan Allah Swt memuliakan orang-orang yang melakukannya. Tentu kemampuan berinfak lebih leluasa dilakukan oleh hamba-Nya yang kaya. Karena itu, mencari kekayaan untuk didistribusikan menjadi suatu keharusan untuk mendapatkan pahala disisi Allah Swt.

5. kekayaan merupakan karunia kebaikan; Allah Swt berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuáh [62]:10).

Allah Swt berfirman: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Baqarah [2]:198)

Allah Swt berfirman: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]:180)

Ayat-ayat tersebut juga semakin memperkuat disahkannya mencari kekayaan yang merupakan karunia serta kebaikan dari Allah Swt. Perkara-perkara kekayaan ini juga terdapat pada kisah para nabi dan rasul yang difirmankan Allah Swt di dalam Al Quran. Misalnya, karunia kekayaan kepada Nabi Sulaiman as (QS. Shaad [38]:35), kekayaan kepada Nabi Yusuf as (Qs. Yusuf [12]:10, dan kekayaan kepada Ratu Saba’ (QS. An-Naml [27]:30).

Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Israa [17]:30)