Oleh Yadi Saeful Hidayat

”Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Almaidah [5]: 2).

Bekerja sama dalam membangun kebaikan dan kemaslahatan merupakan salah satu esensi Islam. Koalisi kebaikan, selain perlu dibangun demi terwujudnya kesejahteraan, keamanan, dan kesentosaan, juga penting untuk meredam gejolak kejahatan serta maraknya perbuatan dosa dan maksiat.

Di antara upaya yang bisa dilakukan oleh koalisi kebaikan adalah dengan mengonstitusikan kebenaran dalam kerangka dan aturan yang jelas. Tanpa ikatan dan perangkat kerja sama itu, koalisi kebaikan akan bisa dikalahkan oleh kekuatan jahat yang terorganisasi.

Inilah maksud perkataan Ali ibn Abu Thalib RA, ”Kebenaran yang dijalankan tanpa aturan yang jelas, akan terkalahkan oleh kebatilan yang digerakkan secara terstruktur dan terorganisasi.”

Islam adalah agama yang paling giat mengusung koalisi kebaikan. Salah satu buktinya tecermin dalam konsep zakat, di mana orang yang berutang harus dibayarkan utangnya melalui dana zakat. Tuhan pun senantiasa akan memayungi hamba-Nya yang gemar melakukan koalisi kebaikan.

Koalisi kebaikan tidak hanya semata ditujukan untuk hal-hal yang bersifat materiil. Aspek moral juga menjadi titik tekan yang harus dilirik oleh koalisi kebaikan.

Menurut Ibn Asyur, salah satu prinsip dari koalisi kebaikan adalah dengan menjalankan konsep ta’awun (koalisi) secara merata dan tidak dibatasi antarkomunitas Muslim dan Muslim yang lainnya. Melainkan harus dibangun antarsesama manusia dengan syarat misi kebaikan dan kemaslahatan yang dikandungnya.

Pandangan ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam kubangan dikotomi ras, suku, ideologi, atau bahkan agama, untuk menciptakan koalisi kebaikan yang bisa menghadirkan kemaslahatan. Kebaikan adalah milik semua manusia, bukan milik sebagian golongan atau aliran.

Kebaikan juga merupakan fitrah penciptaan manusia, dan karenanya tak wajar jika seseorang mengklaim kebenaran hanya milik dirinya sendiri. Beberapa hal lain yang perlu dijadikan prinsip dalam membina koalisi kebaikan adalah kejujuran (al-shidiq) dan kepercayaan (al-amanah).

Lainnya adalah kemauan kuat untuk memegang teguh kebenaran (al-‘azm), tanggung jawab menjalankan kebenaran (al-masliyyah), dan toleransi dalam hal-hal sekunder (al-tasamuh).