Oleh Agus Iswanto

‘Keimanan itu 70 atau 60 lebih cabangnya. Yang paling tinggi ialah mengucapkan La Ilaaha illallah. Dan, yang paling rendah adalah menjauhkan duri dari jalan. Malu itu adalah salah satu cabangnya pula.” (HR Abu Hurairah).

Perasaan malu selalu membawa kebaikan. Demikian kandungan sebuah sabda Rasulullah SAW yang lain.Hal itu terwujud manakala kita telah beriman dan mengenal Allah SWT, bahwasanya Dia-lah Allah SWT yang telah menciptakan diri dan alam yang kita tempati ini.

Allah SWT juga menurunkan rahmat dan nikmat-Nya yang tak pernah putus kepada manusia, baik berupa benda-benda yang bisa dimanfaatkan, rahmat, maupun nikmat akal pikiran yang sehat, pengetahuan, iman, serta takwa.

Dengan rasa syukur terhadap rahmat dan nikmat-Nya itu pula, kita akan selalu menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT menurunkan rahmat dan nikmat karena cinta yang mahaluas terhadap hamba.

Maka, tidaklah pantas jika kita sebagai hamba-Nya untuk tidak mencintai Allah SWT. Dan, wujud cinta itu sudah tentu dengan senantiasa menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Di samping menumbuhkan rasa cinta dan takut, kita juga harus dapat menumbuhkan rasa malu dalam diri kita, yakni malu karena tidak menjalankan perintah Allah SWT dan melanggar larangan-Nya.Malu bila kita tidak ingat atau lupa terhadap Allah SWT dan juga malu bila kita kurang mempunyai rasa syukur dan terima kasih kepada-Nya.

Malu itu berbeda dengan rendah diri atau minder, yang selanjutnya dapat menimbulkan sikap pesimistis. Malu dalam bahasa Arab adalahal-haya’, yang makna harfiahnya adalah hidup.Hal tersebut dapat dipahami dengan dua makna. Pertama, manusia adalah makhluk hidup yang sempurna atau manusia seharusnya mempunyai rasa malu.

Kedua, seharusnya rasa malu selalu menumbuhkan dan menghidupkan rasa syukur kita terhadap nikmat dan rahmat Allah SWT. Jika tidak lagi punya rasa malu, manusia akan cenderung melakukan apa saja dan semaunya. Begitu tegas Nabi SAW berpesan.

Jika rasa malu hilang, manusia akan selalu mengikuti hawa nafsu meskipun melanggar perintah dan larangan Allah SWT. Demikianlah, problematika sosial di keseharian yang tampaknya juga disebabkan oleh hilangnya akhlak malu ini.

Iklan