Oleh Afthonul Afif

Takabur adalah sifat atau perbuatan buruk yang paling dibenci Allah SWT, selain perbuatan menyekutukan-Nya. Ada kesamaan di antara keduanya, yaitu menganggap ada kekuatan di luar-Nya yang dapat dijadikan sebagai sumber kekuatan dan kebanggaan.

Secara definitif, takabur adalah i’jabul mar’i binafsihi ujub, sifat terpesona dan membanggakan diri secara berlebihan. Dalam ilmu psikologi, sifat ini disebut narsisisme atau sikap yang menempatkan ego sebagai satu-satunya parameter untuk menilai segala bentuk kebenaran.

Jika manusia tertawan sifat ini, akan menjadi pihak yang ‘merasa paling’ dalam segala hal; paling mampu, paling pintar, paling hebat, paling sempurna, paling kaya, paling berkuasa, dan sebagainya. Sifat ini sumber malapetaka bagi manusia, karena dapat menjerumuskan ke api neraka. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi (atom) dari kesombongan.’‘ (HR Muslim).

Allah SWT mengutuk siapa saja yang memelihara sifat ini, karena ta kabur penanda bagi pembangkang an Iblis terhadap kebesaran kekua sa an-Nya. Sesaat setelah Allah SWT menciptakan Adam, Dia memerintahkan Iblis untuk bersujud di hadapan Adam.

Namun, Iblis menolak melakukannya. Dengan congkak, Iblis berkata, ‘’Aku lebih baik daripada dia (Adam), karena aku Kau ciptakan da ri api, sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.’‘ (QS Shaad [38]: 76).

Jika ada orang yang dengan congkak membanggakan dirinya, menganggap dirinya ukuran un tuk segala hal, dan merasa ber daulat sepenuhnya atas hidupnya tanpa membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain, dia sebenarnya telah memutuskan untuk bersekutu dengan Iblis.

Di akhirat kelak, orang dengan mental takabur seperti ini juga akan menjadi teman bagi Firaun, Qarun, Namrud, dan manusiamanusia terkutuk lainnya karena kecongkakannya.

Sungguh nyata dampak buruk dari sifat takabur. Bukan hanya api neraka yang akan menunggu, tapi dalam kehidupan sosial se hari-hari pun, sifat ini tentu akan melahir kan konsekuensi buruk. Misalnya membuat orang lupa diri, serakah, egois, dan akan dimusuhi orang-orang di sekitar. Tentu saja ini ha nya sedikit dampak buruk sifat takabur.

Untuk itu, kiranya perlu kita teguh kan kembali pesan Ali bin Abi Thalib agar terhindar dari sifat takabur. ‘’Jika kau berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah pasti dosanya lebih sedikit. Dan, jika kau berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah pasti amalnya lebih banyak dari amalmu.’‘