Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

“(Apakah kamu, hai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri. Sementara itu, ia selalu merasa cemas dan khawatir akan azab akhirat dan mengharap rahmat Tuhannya…” (QS Az-Zumar [39]: 9).

Ayat ini merupakan satu dari 12 ayat yang berbicara tentang keutamaan mawas diri, hati-hati, dan waspada. Alquran menyebut istilah-istilah itu dengan “hadzar”. Sikap ini merupakan akhlak Alquran yang sepatutnya dimiliki oleh mereka yang berakal atau ‘Ulul Albab’, seperti yang dikehendaki pada akhir ayat ini.

Sebab musabab turunnya ayat di atas seperti yang diceritakan Anas bin Malik RA, yaitu pada suatu hari, Rasulullah SAW melayat seseorang yang akan meninggal dunia. “Bagaimana keadaanmu sekarang ini?” tanya Rasulullah. “Aku dalam keadaan harap dan cemas,” jawabnya.

Lalu, Rasulullah bersabda, “Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan berikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan.” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasai).

Di antara bentuk kecemasan yang dimaksud ayat di atas, yakni Allah akan mengazab kita, baik di dunia maupun di akhirat karena kelalaian kita dalam ketaatan kepada-Nya. Dari kecemasan akan azab-Nya inilah kita akan diantarkan kepada satu sikap kewaspadaan dan kehati-hatian. Sehingga, yang selalu nampak adalah totalitas ketaatan hamba kepada Sang Khalik. Allah SWT berfirman, “Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu waspadalah…” (QS Al-Maidah [5]: 92).

Ada dua kewaspadaan atau mawas diri. Pertama, waspada dan mawas diri dari segala bentuk kemaksiatan agar terhindar dari azab dan murka Allah SWT. Kedua, waspada dan berhati-hati terhadap musuh, baik yang nyata maupun yang tidak nyata.

“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu berhati-hati dan waspada akan cobaan (fitnah) yang ditimpakan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur [24]: 63). Karena itu, kewaspadaan akan azab-Nya menjadikan kita lebih berhati-hati dengan semua syariat-Nya, sehingga tak lagi terbersit untuk berbuat maksiat.

Selain itu, kita mesti hadzar dengan para agresor nyata, baik dari setan dan jin, maupun manusia itu sendiri. “…mereka (para munafik) itulah musuh yang sebenarnya. Waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka.” (QS Al-Munafiqun [63]: 4).

Terlebih lagi terhadap mereka yang nyata-nyata memusuhi Islam dan kaum Muslim, Allah SWT mengingatkan orang-orang yang beriman agar waspada dan hati-hati, tidak mudah diperdaya, dan menerima tawaran mereka dalam bentuk apa pun. “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah dan majulah ke medan jihad dengan berkelompok-kelompok atau majulah bersama-sama.” (QS An-Nisa [4]: 71).

Alhasil, sikap kewaspadaan mestinya telah tertanam dalam diri seorang hamba yang beriman kepada Allah SWT. Cukup sudah sederetan peristiwa menyentak diri kita. Bencana dan berbagai fitnah terjadi bergantian dan tak berkesudahan. Karena itu, jangan lagi kita lalai, berbuat maksiat, apalagi keluar dari syariat Allah dan Rasul-Nya. Semoga Ramadhan berhasil menempa kita menjadi pribadi yang waspada dan mawas diri. Saudaraku, waspadalah!

Sumber : Harian Republika , 17 September 2010

Iklan