Siapapun pernah merasakan rasa cemburu. karena sifat ini merupakan bagian dari sifat manusia dan seperti yang telah kita ketahui, bahwa perasaan cemburu adalah ketidaksukaan bergabungnya orang lain pada haknya, dan perasaan cemburu ini adalah tabiat yang alami, ,merupakan fitrah yang tercipta pada diri setiap manusia. Ia berfungsi sebagai penjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. Akan tetapi, sebagai seorang mu’min, perasaan cemburu tersebut haruslah sesuai dengan aturan agama, yang mengutamakan kesabaran, ilmu, keadilan, kebijaksanaan, kejujuran, ketenangan dan kelembutan dalam semua perkara.

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan, cemburu ada dua macam, yaitu cemburu karena kekasih dan cemburu terhadap kekasih.

Cemburu karena kekasih adalah semangat yang menggelora dan marah jika kekasihnya itu diremehkan haknya, direndahkan kehormatannya, dan mendapat gangguan dari pihak lain. Cemburu ini adalah kecemburuan hakiki yang merupakan manifestasi rasa cinta. Cinta yang sedemikian besar, sehingga sang pencemburu merasa siap untuk mengorbankan raga, harta, bahkan jiwanya demi sang kekasih, sampai penyebab cemburunya itu sirna.

Cemburu kedua, adalah kemarahan dan ketersinggungan orang yang jatuh cinta terhadap pihak lain yang juga mencintai kekasihnya. Baik sang kekasih mengabaikannya, apalagi bila kekasih menyambutnya.

Di dalam sebuah rumah tangga, salah satu pasangan baik suami ataupun istri, tentunya pernah merasakan cemburu pada pasangannya. Nah, Sebelum lebih jauh membahas dan memberikan solusi kepada Anda, bagaimana mengendalikan rasa cemburu dalam rumah tangga, terlebih dahulu ada beberapa kisah dari kehidupan rumah tangga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para istri beliau. Semoga dari kisah ini bisa kita ambil pelajarannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

Suatu ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata: Ibu kalian sedang cemburu, lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau.

Kisah yang lainnya terdapat dalam sebuah hadits:

Dari Aisyah: “Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasululloh sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Aisyah berkata: “Tatkala pada suatu malam yang Nabi berada di sampingku, beliau mengira aku sudah tidur, maka beliau keluar. Lalu aku (pun) pergi mengikutinya. (Aku menduga beliau pergi ke salah satu isterinya dan aku mengikutinya sehingga beliau sampai di baqi). Beliau belok, aku pun belok. Beliau berjalan cepat, akhirnya aku mendahuluinya. Lalu beliau bersabda: Kenapa kamu, hai Aisyah, dadamu berdetak kencang?? Lalu aku mengabarkan kepada beliau kejadian yang sesungguhnya, beliau bersabda: ?Apakah kamu mengira bahwa Alloh dan Rasul-Nya akan menzhalimimu?.

Dari kisah tadi menggambarkan kepada kita bahwa kehidupan rumah tangga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun diliputi oleh perasaan cemburu, dan rasa cemburu yang dialami oleh wanita lebih dominan dibandingkan dengan laki-laki, seperti halnya ‘Aisyah ra yang sering mengalami rasa cemburu. Namun kita bisa ambil pelajarannya dari sikap para isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta sikap dan bimbingan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada para isterinya, dan tentunya teladan bagi umatnya.

Sebagaimana fenomena yang kita lihat dalam berumah tangga pada umumnya, tampaklah bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya. Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga.

Berikut ini, beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.

1. Yang pertama, seorang isteri hendaklah bertakwa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap perkara merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dan sepatutnya seorang isteri meringankan rasa cemburu kepada suami, sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas, bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin tidak akan pernah padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai hati sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.

2. Hendaklah disadari oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan mengikuti perasaan, namun juga mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu permasalahan.

3. Sepatutnya seorang wanita yang sedang dilanda cemburu agar menahan dirinya, sehingga perasaan cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan pelanggaran syari’at, berbuat zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka janganlah mengikuti perasaan secara membabi buta.

4. Seorang isteri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya, dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki lain, baik pakaiannya, gaya bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya.

5. Ketahuilah bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwa sang isteri. Tanamkanlah didalam hati bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

6. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya agar selalu dicintai dan disayanginya. Cintailah sepenuh hati, sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain sang isteri. Bahagiakan ia dengan seluruh jiwa, perasaan dan daya tarik, sehingga suami tidak mau berpisah atau menjauh. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup. Perdengarkan di telinganya sebaik-baik perkataan yang dimiliki isteri dan yang paling ia senangi.

7. Janganlah seorang isteri mencela kecuali pada dirinya sendiri, bila saat suami datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh salah kecuali pada diri sendiri, bila suami lebih memilih melihat orang lain dan memalingkan wajah dari isterinya. Dan jangan pula mengeluh bila mendapatkan suami lebih suka di luar daripada duduk di dekat Isterinya. Tanyakan kepada diri sendiri, mana perhatian kepadanya? Mana kesibukan untuknya? Dan mana pilihan kata-kata manis yang dipersembahkan kepadanya, serta senyum memikat dan penampilan menawan yang semestinya diberikan kepadanya?

8. Dan ingat, sang suami tidak mencari perempuan selain isterinya dirumah. Dia mencintai, bekerja, hidup dan senantiasa bersama sang isteri, bukan dengan yang lainnya. Bertakwalah kepada Alloh Subhanahau wa Ta’ala, ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada suami, setelah percaya kepada Alloh yang senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, lalu tunaikanlah yang menjadi kewajiban kita. Jauhilah perasaan was-was, karena setan selalu berusaha untuk merusak dan mengotori hati.

Ya itulah, sedikitnya ada delapan nasehat kepada para isteri muslimah, untuk bisa mengendalikan rasa cemburu dalam kehidupan rumah tangga, terutama cemburu terhadap suaminya tercinta.

Semoga apa yang telah kita simak bersama tadi, menambah ilmu tentang rumah tangga, dan dapat meminimalisir bahkan menghilangkan konflik yang terjadi didalam rumah tangga, sehingga kehidupan rumah tangga pun bertambah harmonis. Wallahu’alam.

Iklan