Saya tidak menyangka jika keputusan saya bekerja ternyata menyakiti hati Fathiyah.Fathiyah putri pertama saya.Saat ia berusia empat bulan,Allah menitipkan kembali seorang jabang bayi dalam rahim saya.Saya ingat sekali, fathiyah lebih suka tidur diatas perut saya yang membuncit saat dia kecil.

Saat baru saja bisa berjalan,adiknya lahir.Saya dan suami berusaha agar perhatian terhadap Fathiyah tidak berkurang sedikitpun.Fathiyah pun tak bermasalah dengan adiknya.Tidak cemburu seperti yang dikhawatirkan orang-orang.

Ujian Allah datang saat saya memutuskan kembali bekerja.sudah lama saya menunggu untuk kembali aktif bekerja.Dulu saya sempat menjadi seorang jurnalis.Kali ini saya memilih bekerja sebagai seorang guru di sebuah SDIT di Depok. Fathiyah dan adiknya yang saat itu masing-masing berusia tiga tahun dan dua tahun, saya titipkan ke Tempat Penitipan Anak yang dikelola oleh sekolah tempat saya mengajar, perubahan drastis terjadi pada Fathiyah.Fathiyah tidak lagi seriang dulu.Dia sering marah-marah dan tidurnya pun tidak tenang.Beberapa kali dia dipergoki pengasuhnya sedang berlari-lari sambil tidur dan dia berteriak-teriak memanggil ibunya.Hati saya miris sekali.

Makin hari, Fathiyah sering marah-marah.Kali ini, dia membanting barang-barang di rumah.Dia membanting kipas angin,buku-buku,bahkan pintu lemari dan pintu rumah pun dia banting.Saya malah ikut-ikutan marah.Saya marahi dia karena saya sudah kehilangan akal bagaimana caranya membuat dia berhenti marah-marah.Hingga suatu hari dia menangis dan berkata,”Ibu nggak sayang sama Kakak” saya terhempas.Saya sedih sekali.Saya pun ikut menangis.

Sikap Fathiyah membuat saya dan ayahnya bingung.Saya berkonsultasi dengan seorang teman yang ahli dibidang pendidikan anak usia dini.Akhirnya saya tahu jika Fathiyah selama ini merasa kehilangan orang tuanya,khususnya Ibunya.Ternyata Fathiyah menginginkan saya selalu ada disampingnya ,mengingat umurnya yang masih kecil.Dia pun kehilangan tempat nyaman untuk bermain yaitu rumahnya karena terpaksa saya titipkan di TPA.Tidak ada khadimah

yang tinggal di rumah.

Malam itu habis shalat saya menangis sejadi-jadinya.Saya merasa bersalah telah merampas hari-hari bahagiaa milik Fathiyah.Saya mohon ampun pada Allah.Saya mohon pada Allah agar memperbaiki lisan saya.Saya juga mohon pada Allah agar dipertemukan lagi hati saya dan Fathiyah,putri saya tercinta.Saya baca doa Nabi Musa saat menghadapi pembangkangan umatnya.”Ya Rabb i,lapangkanlah dadhaa :25-28).

Setiap saat hingga hari ini saya selalu membaca doa ini.Saya mohon pada Allah agar Dia memperbaiki lisan saya.Saya berharap pada Allah agar saya mampu berkata-kata dengan baik dan benar pada anak-anak saya.Saya berharap saya mampu menjadi ibu yang baik buat mereka.Sayapun memutuskan berhenti bekerja.

Setelah saya berhenti bekerja,saya punya banyak waktu bersama anak-anak.Kami bermain dan belajar bersama.shalat berjamaah,makan sama-sama,main air sama-sama,hampir semua kami kerjakan bersama-sama.Fathiyah mulai ada perubahan.sejalan dengan perubahan sikap saya dalam menghadapi anak-anak.

Saat itu sehabis shalat maghrib,saya sedang bercanda dengan anak-anak.saya sedang menggelitik Fathiyah.Sambil tertawa dia berujar “Aku baru ketemu ibu lagi” Saya peluk dia,saya terharu tapi tak ingin menangis karena itu akan merusak kebahagiaanya.Hati saya lega sekali.saya telah menemukan Fathiyah yang dulu lagi.Terima kasih Allah yang telah mengabulkan doa-doa saya.

disadur dari “Kekuatan doa ibu, karangan Ummi Maya”

Iklan