Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga sering kali dipandang sebelah mata,hanya sebagai profesi yang tidak menguntungkan kaum wanita. Urusan remeh temeh yang tak jauh dari “ dapur dan “kasur” menjadi alasan parawanita enggan bahkan minder jika ditanyamasalah pekerjaan. Apalagi bila wanita yang menjadi seorang ibu ini mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi, adayang memandang kasihan karna disayangkan setelah sekolah tinggi-tinggi ternyata “hanya” menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.

Di luar dari itu semua, sebenarnya perlu kita sadari bahwa sebuah profesi yang sering dipandang sebelah mataini bukan hanya sebuah profesi semata. Tapi sebuah Fenomenakehidupan yang akan membentuk sebuah generasi Robbani.

Tak ayal, seorang ibu dalam sebuah rumah tangga sangat berperan penting. Sebuah kebahagiaan dalam sebuah rumah karna ada peran seorang ibu yang memberikan kasih sayangnya dengan penuh ketulusan dan bisa jadi dalam sebuah rumah tangga adanya kegagalan karnakurangnya peran ibu di dalamnya.

Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ditangan seorang ibu lah generasi tangguh yang cerdas dan berakhlak mulia memunculkan sebuah harapan untuk memimpin ummat ini di masa yang akan datang.

Tanpadisadari semenjak anak dalam kandungan,seorang ibu telah berperan penting. Menurut berbagai penelitian,bahwajanin sudah dapat merasakan perasaan ibunya baik ketikasedih maupun ketikabahagia. Janin juga sudah bisa mendengarkan bahkan parapeneliti menganjurkan para ibu untuk memperdengarkan musik klasik pada janin untuk merangsang perkembangan otak janin. Tapi tentu saja kita sebagai seorang muslimah lebih baik memperdengarkan Lantunan ayat-ayat Al Quran ataupun kalimah Tayyibah, agar calon bayi kita mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak dalam kandungan.

Namun faktayang membuat tercengang dijaman yang serba adaini, banyak wanita yang tidak begitu memahami perannya sebagai seorang ibu. Dibalik kecermelangan sebagai wanitakarir,dia terlupa fitrahnya sebagai seorang istri terlebih sebagai seorang ibu. Alhasil, banyak wanita yang menitipkan anak-anaknya pada pembantu ataupun pada tempat penitipan anak.

Justru hal ini membuat miris, ketika anak lebih dekat padapembantunya atau orang yang lebih banyak mengasuhnya dari pada ibu nya sendiri. Tapi itu tak lantas membuat sadar, mereka kira dengan pemenuhan kebutuhan dunia seperti apapun yang anak-anak mintaasalkan tidak rewel ataupun tidak mengganggu pekerjaan ibunya,akan membuat si anak bahagia.

Hal ini akhirnyamembuat perkembangan anak menjadi lebih agresif dan tentunya sangat manja. Bilaterus berlangsung maka akan sangat berpengaruh ketika anak sudah mulai berinteraksi dalam masyarakat, perilaku agresif dan manja akan terbawa terus menerus. Sehingga timbulah perilaku buruk yang justru membawanya menjauh dari hubungan bermasyarakat, bila sudah seperti ini tak bisa di salahkan sepenuhnya pada anak. Justru seorang ibu lah yang perlu berbenah karna pola asuh yang salah.

Betapa pentingnyaperan ibu di masa sekarang ini,dengan kondisi anak yang bisa berpengaruh padadunia luar. Maka seorang ibu harus mampu menjadi ibu dan sahabat bagi anak-anaknya. Sehingga dia mampu menjaga dan mengontrol pergaulan anak-anaknya,menjadikan sebuah rumah yang nyaman dan kondusif. Mengarahkan anak untuk mengetahui aturan agama kita dan aturan hubungan bermasyarakat.

“Dan hendaklah takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklahmereka bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisa:9).

Ibu lah yang memperkenalkan Tuhan untuk pertama kali padaanak-anaknya dengan memperkenalkan kalimah syahadat,lalu berlanjut dengan rukun islam dan iman. Di sertai doa-doa pengantar makan,tidur ataupun doa-doa yang lain. Di sinilah kemuliaan seorang ibu untuk mencetak sebuah generasi yang mengenal Tuhannya.

Kedekatan ibu dan anak semenjak interaksi dari melahirkan,menyusui sampai anak-anak menginjak dewasa,mengokohkan pentingnyaibu ketika mengajarkan anak pada pribadi mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Melatih anak cara berkomunikasi,bertanggung jawab serta menjadi seorang pemimpin yang bijak. Tentu itu semua tidak akan mampu dilakukan tanpa adanyaikut campur tangan ibu didalamnya.

Makapandangan sebelah mata padafitrahnya seorang ibu, sebenarnya tak bisa dijadikan landasan bahwa menjadi seorang Ibu Rumah Tangga itu hanya sekedar “dapur” dan “kasur”. Namun dibalik itu semuaada sebuah peran penting untuk mendidik anak-anaknyasehinggadia kelak mampu menjadi penegak panji Islam. Dan tentu saja, kelak anak-anak sholeh lah yang akan mendoakan ibu bapaknya.

” Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya“ ( Hr.Muslim )